By / Media

Abdullah Saeed: Syariah Kompatibel dengan HAM

Spread the love

Konferensi ahli dalam kursus tingkat master tentang syariah dan Hak Asasi Manusia (HAM) yang diadakan Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (Pusam) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hari ini, Selasa (14/06) memasuki hari kedua. Konferensi dan lokakarya itu akan berlangsung hingga besok di hal KH Ahmad Dahlan hotel pendidikan UMM Inn.

Tampil dalam sesi pagi tadi, pakar dari Malaysia Prof Hashim Kamali dan telekonferens dengan pakar Australia Prof Abdullah Saeed. Sesi berikutnya adalah pemaparan hasil penelitian dari Pusat Studi Islam (PSI) Universitas Islam Indonesia Yogjakarta tentang pandangan perguruan tinggi Islam terhadap isu-isu HAM. Sebelumnya, kemarin, beberapa pakar sudah memberi pemaparan dengan tema spesifik syariah dan HAM. Antara lain, Prof M Amin Abdullah, Prof Musdah Mulia, Prof Tore Lindholm, Prof Lena Larsen dan Prof Brett Schraffs. Rektor Muhadjir Effendy memberi sambutan pembukaan yang menekankan pentingnya kursus syariah dan HAM diselenggarakan.

Kamali berpendapat, syariah dan HAM adalah saling mendukung. Jika syariah dipahami dalam konteks perlindungan hidup, keluarga, kebebasan memeluk agama, jelas itu sepadan dengan prinsip-prinsip yang dijunjung oleh HAM. Dalam hal ini syariah harus dipahami secara luas dan dilihat konteksnya yang tepat.

Namun demikian, dalam memahami fikih gender dan kebebasan beragama, seringkali syariah dibenturkan dengan HAM. Hal ini menurut Kamali terlalu mensimplifikasi persoalan dari kacamata persepsi yang sering salah. Syariah sering hanya dilihat sebagai kewajiban, sedangkan ajaran mengenai hak-hak justru sering dilupakan. Sehingga tak jarang pemahaman itu justru memunculkan stereotype bahkan sikap Islamophobia di kalangan orang non-muslim.

“Alquran jelas mengajarkan tidak ada pemaksaan dalam agama,” ujar Kamali. Namun dalam konteks lain, ada juga ajaran dimana orang yang murtad bisa diperlakukan sebagai musuh. Di sini harus dilihat konteks memusuhi orang kafir tersebut pada masa Rasulullah dimana kaum kafir juga memusuhi kelompoknya. Rasul tidak pernah menyerang terhadap kaum tersebut, namun jika posisinya diserang maka akan dilawan. Orang kafir waktu itu dianggap musuh karena menjadi kafir adalah melawan nabi dan mengkhianati negara alias makar. Oleh karena itu, simpul Kamali, sepanjang orang kafir tidak memusuhi kita maka tidak relevan kita memusuhinya. Sebaliknya banyak sekali ajaran nabi yang mengajak kembali ke Islam secara persuasif, dengan indah dan bukan koersif.

Senada dengan Kamali, dalam telekonrefensnya Saeed setuju kurikulum syariah dan HAM harus dibuat sesuai konteks waktu dan tempat. Studi-studi kasus dan penyelesaiannya, menurutnya, lebih penting daripada memberikan teori-teori. “Di Indonesia banyak kasus yang bisa ditelaah dan dijadikan sebagai studi untuk dikaji dan direnungkan. Selanjutnya kasus-kasus tersebut disusun untuk dicarikan penyelesaiannya secara mendalam menggunakan sumber-sumber agama yang relevan,” terangnya.

Lebih lanjut, Saeed menegaskan Alquran sangat terbuka dan umat Islam harus memikirkan kembali keterbukaan itu sebagai landasan berperilaku. Alquran mengakui adanya orang yang percaya Tuhan tetapi juga ada orang yang tak percaya Tuhan.  Keniscayaan itu tidak bisa dihindarkan sehingga tak ada pembenaran untuk menghabisi kelompok yang beda kepercayaan maupun yang tidak memiliki kepercayaan.

Dalam pengalaman Saeed, berbicara mengenai HAM saja bisa diterima secara berbeda-beda di suatu tempat dengan tempat lainnya. Di Malaysia, dia pernah diprotes karena bicara mengenai HAM bisa dianggap memperkuat alasan kelompok non-muslim untuk menyerang kelompok muslim. “Namun tidak demikian di Indonesia. Saya kira Indonesia sudah sangat terbuka untuk diskusi. Kita tidak perlu merasa terancam dan tidak perlu mengancam orang lain,” ujarnya.

Sementara itu, menjawab permintaan Oslo Coalition dan Pusam untuk bersedia mengajar di UMM, Saeed mengaku senang dengan undangan itu. “Dengan senang hati,” ungkapnya. Shortcourse syariah dan HAM di UMM akan diselenggarakan atas kerjasama dengan Oslo Coalition Norwegia mulai tahun depan. Dosen-dosennya diambil dari pakar-pakar yang saat ini menjadi pembicara di forum pakar itu. Koordinator Pusam Prof Syamsul Arifin menjelaskan, forum ini sekaligus untuk menyusun kurikulum shortcourse tersebut. (nas)


Spread the love

Leave a Comment

Your email address will not be published.