By / Kolom

Abrogasi Agama dalam al-Qur’an

Spread the love

Abrogasi atau supersesionisme ialah pandangan teologis yang mengatakan bahwa Islam menghapus agama-agama sebelumnya. Asumsi dasarnya, kitab-kitab suci terdahulu sudah tidak valid lagi setelah diturunkannya al-Qur’an. Apakah al-Qur’an memuat doktrin abrograsi? Bagaimana doktrin ini berkembang dalam tradisi Islam?

Pertanyaan di atas seringkali dijawab secara dikotomis: sebagian ulama menganggap al-Qur’an bersifat supersesionis dan sebagian lain melihat al-Qur’an tidak menghapuskan validitas kitab suci sebelumnya. Kedua kubu mengakui adanya ambiguitas sikap al-Qur’an, tapi berbeda cara merekonsiliasi posisi al-Qur’an yang tampak bertentangan itu. Di kalangan sarjana Muslim kontemporer, kedua pendekatan di atas diwakili oleh Tim Winter (nama Muslimnya: Abdul-Hakim Murad) dan Abdulaziz Sachedina. Guru Besar studi Islam di Universitas Cambridge, Winter berargumen bahwa telaah atas kitab suci kaum Muslim tampaknya mengorfirmasi pembacaan kalangan Sunni klasik yang mengarah pada supersesionisme Islam atas agama-agama sebelumnya. Di sisi lain, Sachedina yang Guru Besar di Universitas Virginia itu secara tegas mengatakan, bahwa tidak ada ayat al-Qur’an yang secara eksplisit mendukung keyakinan Muslim belakangan bahwa al-Qur’an telah menghapuskan wahyu terdahulu.

Dari penelaahan terhadap iklim sektarian al-Qur’an di zaman Nabi, saya bisa tegaskan dikhotomi antara klaim supersesionis dan non-supersesionis itu terlalu simplistis dan tidak menggambarkan kompleksitas dinamika pertautan awal antara Islam dan agama-agama lain. Manakala persoalan hubungan Islam dan agama lain diformat dalam kerangka supersesionisme dan non-supersesionisme, maka hanya tersedia dua opsi: menggenggam klaim eksklusivisitas Islam atau menerima Yahudi dan Kristen sebagai agama sah. Problem argumen supersesionisme terletak pada anggapan bahwa kritik-kritik al-Qur’an terhadap agama lain sebagai “norma” dalam perbincangan antar-agama. Padahal, seperti didiskusikan di atas, kritik-kritik al-Qur’an lahir dalam iklim polemik dan sektarian. Dalam suasana normal, demikian al-Qur’an mengajarkan, hubungan antar-agama diatur dengan prinsip-prinsip keseteraan, keadilan, dan saling menghormati.

Prinsip-prinsip ini berlaku baik dalam interaksi sosial maupun teologis. Pembacaan hati-hati terhadap kritik-kritik teologis al-Qur’an mengungkapkan, al-Qur’an tidak bermaksud mengganti agama-agama terdahulu, melainkan mengoreksi aspek-aspek yang dianggapnya menyimpang dari kemurnian. Ini sedikit menjelaskan kenapa al-Qur’an tampak tidak terlalu tertarik dengan diskursus teologis agama lain dan juga tidak menyajikan banyak informasi tentang agama lain, termasuk Yahudi dan Kristen. Seperti dicontohkan di atas, ketika menyinggung soal doktrin Trinitas yang cukup sentral dalam teologi Kristen, al-Qur’an hanya melarang mengatakan “tsalatsah” (Tiga, Trinitas?), dan tidak menjelaskan secara eksplisit apa yang dimaksud Trinitas. Hal ini menggiring sejumlah kalangan untuk menganggap al-Qur’an salah paham terhadap doktrin Trinitas. Barangkali bukan salah-paham, melainkan memang tidak tertarik dengan detailnya, dan hanya menyinggung sebagian pemahaman (yang tidak ortodoks) untuk dikoreksinya.

Dalam konteks ini, kita bisa melihat peran Muhammad sebagai Nabi pembaru (reformer) dan agama yang dibawanya juga mengemban semangat pembaruan, bukan pembatalan atau abrogasi. Nabi memisahkan diri dari jeratan politeisme pagan Arab dan mengadvokasi misi kembali ke monoteisme murni yang dicontohkan Ibrahim. Sebagai seorang pembaru, beliau hanya melihat bagian dari agama Yahudi dan Kristen untuk dikoreksi. F.E. Peters, profesor emiratus yang sangat produktif dari Universitas New York, melihat semangat reformasi Nabi Muhammad punya kesamaan dengan Nabi Isa. Dalam bukunya Jesus and Muhammad: Parallel Tracks, Parallel Lives, Peters menunjukkan banyak paralelisme dalam biografi Yesus dan Muhammad, termasuk perjuangan keduanya untuk mereformasi kultur keagamaan pada zamannya. Perbedaannya, kata Peters, reformasi Muhammad bersifat konservatif karena ingin mengembalikan kemurnian masa lalu, sementara Yesus lebih progresif karena tidak memberangus akar tradisinya.

Perbedaan watak reformasi Yesus dan Muhammad seperti dijelaskan Peters ini terbuka diperdebatkan. Yang luput dari perhatian Peters adalah, baik Muhammad maupun Yesus tidak pernah mengklaim mengabrogasi agama-agama di zamannya. Yesus lahir sebagai seorang Yahudi hingga akhir hayatnya, sementara Muhammad mengaku mewarisi tradisi Ibrahim dan Nabi-nabi sebelumnya, termasuk Yesus.

Jika demikian adanya, kenapa teologi supersesionisme begitu dominan dalam tradisi Kristen dan Islam? Menurut Sachedina, argumen supersesionisme Islam atas Kristen dan Yahudi bukan hanya menyerupai supersesionisme Kristen atas Yahudi tapi juga dipengaruhi perdebatan yang terjadi di kalangan kaum Kristiani. Dalam tulisannya berjudul, “Is Islamic Revelation an Abrogation of Judaeo-Christian Revelation?” (1994), Sachedina menulis: “Bukan mengada-ada jika kita katakan bahwa debat tentang Islam menghapuskan Kristen dan Yahudi, sungguhpun tidak didukung al-Qur’an, pasti masuk ke dalam pikiran kaum Muslim karena pengaruh perdebatan intens di kalangan umat Kristiani bahwa agama mereka telah menghapuskan Yahudi, terutama karena kaum Kristiani mengklaim pewaris sah dari kitab yang sama yang menjadi sumber hukum-hukum Yahudi.”

Tentu saja tidak mudah memastikan sejauhmana teologi supersesionis itu mempengaruhi pandangan kaum Muslim. Yang pasti, supersesionisme bisa dilacak jauh ke sejarah awal perkembangan gereja. Sejumlah sarjana berpendapat, teologi supersesionis itu bermula dari pandangan para penulis Perjanjian Baru dan diterima luas sejak zaman pasca-apostal hingga pertengahan abad kesembilanbelas. Namun demikian, dalam beberapa dekade terakhir dan mencapai kulminasi pada Konsili Vatikan kedua (1965), banyak upaya reinterpretasi dilakukan yang memungkinkan doktrin supersesionisme ini kian dianggap tidak relevan. Menyusul Nostra Aetate yang dikeluarkan Gereja Katolik itu, sejumlah gereja Protestan juga mengeluarkan deklarasi non-supersesionis.

Kita harus jujur akui, upaya reinterpresi ke arah teologi non-supersesionis belum terlihat masif di kalangan umat Muslim sehingga cengkraman supersesionisme masih begitu kuat. Para ulama dan teolog Muslim perlu melakukan refleksi serius guna memberikan pemahaman bahwa abrogasi agama bukanlah ajaran al-Qur’an dan sudah saatnya dihilangkan dari kosa-kata teologis kaum Muslim.

 

Mun'im Sirry

Mun'im Sirry

Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA. Tiga karyanya: "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis Atas Kritik Al-Quran Terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).
Mun'im Sirry

Spread the love

Mun'im Sirry

Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA. Tiga karyanya: "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis Atas Kritik Al-Quran Terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).

Leave a Comment

Your email address will not be published.