By / Kolom

Ini Ruang Ketiga, Nikmati Saja!

Spread the love

Kalau ingin menghibur diri dari kekalahan, maka ketiga gol pada permainan futsal tadi padi sebagai hiburannya. Kecewa dengan kekalahan kendati itu sebatas permainan, atau main-main, tentu manusiawi. Betapa tidak. Baru bermain sekitar 1800 detik, sudah kebobolan lima gol.

Beruntung bukan kekalahan absolut, 5-0, setidaknya hingga waktu 1800 detik itu. Saya menciptakan hattrick. Kalau saja tidak ada agenda lain pada jam 08.00 pagi ini, saya masih ingin berjuang menciptakan gol agar setidaknya bisa berakhir seri.

Itu berarti harus menciptakan quattrick (4 gol) bahkan quintrick (5 gol), tentu dengan catatan tim lawan mandeg di 5 gol itu. Hattrick itulah hiburan saya. Tetapi ada yang aneh pada gol terakhir saya yang kemudian saya disebut menciptakan hattrick.

Mendapat bola mendatar dari kiper, Mas Mimin (Achyar Muslimin), berhenti sejenak di kaki Mas Kusno sebelum diteruskan ke saya. Berikutnya saya head to head hanya dengan kiper, Aldi, mahasiswa Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) yang juga sebagai pekerja paruh waktu di Kantor BAA, dan gol.

Tetapi saya merasakan keanehan. Sepertinya gol ketiga itu berlangsung begitu mudah. Nyaris tidak ada perlawanan. Berbeda dengan dua gol sebelumnya. Apakah karena antara saya dengan Aldi dibedakan oleh postur yang memang tidak berimbang, baik tinggi maupun bobot.

Postur Aldi sejatinya lumayan ideal untuk bermain di lapangan futsal seluas 16×26 meter. Dengan postur yang tidak terlalu tinggi dan bobot yang ringan, Aldi bahkan terkadang berani meninggalkan area pertahanannya hingga mendekati gawang lawan. Pergerakannya lumayan gesit dan lincah. Sekali lagi, posturnya ideal sebagai pemain amatir dalam permainan yang dipopulerkan Juan Carlos Ceriani pada 1930 di Uruguay itu. Sebagai kiper, pertahanannya kuat. Tetapi mengapa ketika head to head dengan saya sepertinya tidak memberikan perlawanan.

“Saya deg-degan Pak,” kata Aldi semalam. Karena saya memutuskan memarkir mobil dinas di kampus, tadi malam, saya meminta diantar pulang ke rumah. “Ini baru pertama kali saya berboncengan dengan wakil rektor,” Aldi mengemukakan alasan di balik rasa deg-deganya itu. “Apalagi yang nyetir Bapak,” sambung Aldi.

Saya memang memutuskan memegang kemudi motor beat Aldi supaya saya tidak banyak memberi petunjuk jalan ke rumah saya yang memang banyak belokan. (Pernah seorang kawan saya menggoda ihwal perjalanan ke rumah saya yang tidak hanya banyak belokan, tetapi sesekali dan dua kali melewati tanjakan. Kawan saya ini, menunjukkan gerakan berbelok dan menanjak dengan menggunakan lengan tangannya, baik kanan maupun kiri).

Apakah di lapangan futsal tadi pagi itu, Aldi juga dihinggapi perasaan deg-degan ketika head to head dengan saya sebagaimana juga dirasakan tadi malam ketika saya bonceng?

Kalau dugaan saya benar, seharusnya tidak boleh demikian. Karena lapangan futsal, bukan ruang pertama (firts place) apalagi ruang kedua (second place), tetapi justru ruang ketiga (third place). Ketiga konsep ruang ini dirujuk dari sosiolog perkotaan, Ray Oldenberg, dan populer pada 1989.

Ruang ketiga adalah ruang untuk perkawanan. Jadi tidak ada struktur, pembagian tugas secara formal, yang mengakibatkan relasi berlangsung secara hirarkis, atas bawahan, sebagaimana di tempat kerja. Tempat kerja, kata Oldenburg merupakan ruang kedua atau second place. Di ruang ini, hirarki antara saya dengan Aldi terlihat begitu terang.

Juga beberapa staf yang ikut bermain tadi seperti Mas Irji’i, Mas Kusno, dan Mas Mimin, memiliki perbedaan tugas yang jelas dengan saya. Tetapi, sekali lagi, perbedaan itu tampak di ruang kedua.

Bagaimana dengan ruang pertama. Ruang pertama adalah rumah kita dengan privacy yang tinggi. Saya tidak ingin menyinggung terlalu dalam topik rumah kedua pada catatan harian (cahar) edisi kali ini.

Begitulah, karena di ruang ketiga, suatu ruang perjumpaan sesama kawan, maka konsep hirarki tidak penting. Relasi atasan-bawahan sebaiknya untuk sementara dikesampingkan. Di ruang ketiga, seperti lapangan futsal, Mas Irji’i bertindak sebagai manager. Maka saya seharusnya mengikuti instruksinya. Tentu  ketika di ruang kedua, saya adalah atasan Mas Irji’i.

Merasakan ketiadaan hirarki penting. Ruang ketiga bisa dijadikan momen melepas kemelekatan (detach)  segala sesuatu di ruang kedua. Kemelekatan (attachment) adalah penilaian yang berlebihan pada suatu objek yang pada gilirannya kita tertempel, melekat, tidak bisa berjarak, dan bahkan jika menggunakan ungkapan dalam tasawuf, kita justru dimiliki oleh sesuatu itu. Lebih jauh lagi, kemerdekaan kita tergadaikan.

Ruang ketiga menghadirkan momen dimana kita bisa hadir secara rileks, nyantai, tidak terbebani oleh posisi atau jabatan tertentu.

Karena itu, nikmati saja. Seumpama kita bermain futsal, tenis, badminton, tidak perlulah kita memohon izin terlebih dahulu, misalnya berucap begini: “Maaf Pak Warek mohon izin mau nyemes.” Seumpama dalam permainan badminton dikalahkan oleh staf kita, buat apa diratapi apalagi terbawa “baper” hingga ke ruang kedua.

Mari kita hadirkan dan nikmati ruang ketiga ini.

Malang, 28 Oktober 2017
Ditulis di kantin madjid kampus tiga selepas bermain futsal tadi pagi.

Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si

Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si

Direktur Eksekutif at Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM)
SYAMSUL ARIFIN adalah Profesor Sosiologi Agama di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Saat ini, dia menjabat sebagai Wakil Rektor I UMM, sekaligus Direktur Eksekutif Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Program Pascasarjana UMM. Minat akademiknya terkosentrasi pada kajian dan riset mengenai pendidikan, radikalisme, multikulturalisme dan hak asasi manusia. Beberapa karyanya yang telah dipublikasikan, di antaranya adalah: (1) Ideologi dan Praksis Gerakan Sosial Kaum Fundamental: Pengalaman Hizbut Tahrir Indonesia (UMM Press, 2005); (2) Studi-studi Agama: Perspektif Sosiologi dan Isu-isu Kontemporer (UMM Press, 2009); Studi Islam Kontemporer: Arus Radikalisasi dan Multikulturalisme di Indonesia (Intrans Malang, 2015); Attitudes to Human Rights and Freedom of Religion or Belief in Indonesia, Voices of Islamic Religious Leaders in East Java (Kanisius, Yogyakarta, 2010). Syamsul juga terlibat dalam sejumlah penulisan buku yang berbasiskan riset, di antaranya: (1) Indonesian Discourse on Human Rights and Freedom of Religion or Belief: Muslim Perspective (BUY Law Review, 2012); (2) The Construction of Islamic Education of Islamic Education in Hizb Perspective (Education, Vol 10, Number 3, September-December 2012); (3) Stem the Tide of Radicalization in Indonesia (Islamica: Islamic Studies, Vol. 8 No. 2 (2014).
Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si

Latest posts by Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si (see all)


Spread the love

Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si

SYAMSUL ARIFIN adalah Profesor Sosiologi Agama di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Saat ini, dia menjabat sebagai Wakil Rektor I UMM, sekaligus Direktur Eksekutif Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Program Pascasarjana UMM. Minat akademiknya terkosentrasi pada kajian dan riset mengenai pendidikan, radikalisme, multikulturalisme dan hak asasi manusia. Beberapa karyanya yang telah dipublikasikan, di antaranya adalah: (1) Ideologi dan Praksis Gerakan Sosial Kaum Fundamental: Pengalaman Hizbut Tahrir Indonesia (UMM Press, 2005); (2) Studi-studi Agama: Perspektif Sosiologi dan Isu-isu Kontemporer (UMM Press, 2009); Studi Islam Kontemporer: Arus Radikalisasi dan Multikulturalisme di Indonesia (Intrans Malang, 2015); Attitudes to Human Rights and Freedom of Religion or Belief in Indonesia, Voices of Islamic Religious Leaders in East Java (Kanisius, Yogyakarta, 2010). Syamsul juga terlibat dalam sejumlah penulisan buku yang berbasiskan riset, di antaranya: (1) Indonesian Discourse on Human Rights and Freedom of Religion or Belief: Muslim Perspective (BUY Law Review, 2012); (2) The Construction of Islamic Education of Islamic Education in Hizb Perspective (Education, Vol 10, Number 3, September-December 2012); (3) Stem the Tide of Radicalization in Indonesia (Islamica: Islamic Studies, Vol. 8 No. 2 (2014).

Leave a Comment

Your email address will not be published.