By / Kolom

Memaknai “Fastabiqul Khairat” pada Lambang Pemuda Muhammadiyah

Spread the love

Pada lambang Pemuda Muhammadiyah terdapat sebuah kata “fastabiqul khairat” yang muncul dua kali dalam al-Qur’an. Yakni, dalam surat al-Baqarah (2): 148 dan surat al-Ma’idah (5): 48. Kata itu biasanya diterjemahkan sebagai “berlomba-lombalah dalam kebaikan.” Dalam dunia yang kian terpolarisasi, frasa tersebut sungguh terasa semakin relevan dibandingkan dari sebelumnya.

Tapi, apa makna seruan al-Qur’an itu? Tampaknya tak banyak dibicarakan dan dieksplorasi dalam konteks kekinian. Tentu bukan tanpa alasan kenapa sang pencipta lambang Pemuda Muhammadiyah memilih frasa al-Qur’an tersebut. Kedua ayat yang memuat kata itu merujuk pada kenyataan keragaman agama dan multikulturalisme. Berikut saya kutipkan kedua ayat tersebut (dalam terjemahan Depag), kemudian diskusikan kandungan maknanya.

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan (Qs. 2:148)

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan (Qs. 5:48)

Terjemahan “berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan” mengesankan adanya persaingan walaupun tujuannya sama: kebaikan. Padahal bukan itu yang menjadi semangat kedua ayat di atas. Karena itu, saya lebih memilih terjemahan “marilah saling berkontribusi dalam kebaikan.” Sampai batas yang besar, kedua ayat di atas merupakan sebuah manifesto al-Qur’an tentang pluralisme agama. Ini bukan sekadar soal pluralitas atau keragaman, melainkan suatu pengakuan Ilahi bahwa keragaman itu harus diterima karena mengandung kebaikan. Kenyataan tentang pluralitas tidak sama dengan pluralisme, karena kata yang terakhir ini merupakan respons positif terhadap yang pertama (pluralitas).

Maka, kedua ayat tersebut menekankan pentingnya “mutual contribution” atau saling berkontribusi dan berkolaborasi dalam konteks kehidupan yang plural. Kata imperatif “fastabiqu” (marilah saling berkontribusi) perlu dipahami sebagai panggilan Ilahi agar kita menjadi warga yang aktif (active citizens) demi mencapai kebaikan bersama (common good). Dengan demikian, pesan kata “fastabiqul khairat” sebenarnya bersifat universal. Yakni, terciptanya suatu hubungan sosial yang harmoni dengan kepedulian untuk saling membantu, bahu-membahu, demi terwujudnya kemaslahatan bersama.

Kata “khairat” (kebaikan, virtues) yang menjadi obyek kolaborasi dan kerjasama juga sangat significan karena dapat digunakan untuk mengukur nilai “kontribusi.” Artinya, kontribusi akan punya makna positif hanya jika ditujukan untuk menghasilkan kebaikan bersama. Ketika dua kata “fastabiqu” dan “khairat” digabung, maka akan lahir suatu energi positif yang akan mengantarkan masyarakat menuju kemajuan yang menjadi cita-cita bersama. Mari kita revitalisasikan semboyan dalam lambang Pemuda Muhammadiyah itu.***

Mun'im Sirry

Mun'im Sirry

Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA. Tiga karyanya: "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis Atas Kritik Al-Quran Terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).
Mun'im Sirry

Spread the love

Mun'im Sirry

Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA. Tiga karyanya: "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis Atas Kritik Al-Quran Terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).

Leave a Comment

Your email address will not be published.