By / Kolom

Membenihkan Watak Islam Kosmopolitan

Spread the love

Apa yang dimaksud dengan kosmopolitan? Dan apa sejatinya hubungan antara Islam dengan kosmopolitanisme? Sesungguhnya, artikel ini ingin mengajak pembaca yang budiman supaya mengenali apa saja nilai-nilai Islam yang universal, atau lebih keren dapat juga kita sebut sebagai Islam kosmopolitan tersebut.

Di Indonesia, kajian Islam kosmopolitan akan mudah kita temukan pada beberapa tulisan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Terutama karena Presiden RI keempat tersebut menulis buku berjudul Islam Kosmopolitan: Nilai-Nilai Indonesia &Transformasi dan Kebudayaan (2007). Namun jika kita merujuk pada kosmopolitanisme sebagai sebuah ideologi modern, maka pemikirnya yang paling dikenal adalah Immanuel Kant.

Dictionary.com menjelaskan bahwa kosmopolitanisme merupakan ideologi yang menyatakan bahwa semua manusia merupakan satu komunitas tunggal yang memiliki moralitas sama. Sementara seseorang yang memiliki pemikiran kosmopolitanisme dalam bentuk apapun disebut kosmopolitan atau kosmopolit. Sehingga, jika ada agama yang memiliki nilai dan moral kebaikan bagi seluruh alam berarti ia adalah bagian dari agama yang kosmopolit.

Islam yang memandu umatnya untuk bersikap ramah, toleran, dan mengedepankan kepedulian terhadap orang tidak mampu (mustad’afin) menunjukkan bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini memiliki watak kosmopolitan. Lebih dari itu, kehadiran Islam yang bisa bersanding menjaga kerukunan dan perdamaian dengan pemeluk agama lain, suku, golongan, dan bangsa yang berbeda semakin menampilkan karakter kosmopolitnya.

Islam dapatlah disebut sebagai agama yang memiliki watak kosmopolitan. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah SWT pada Surat Al-Anbiya’, ayat 107, yang berbunyi:

وَمَا اَرْسَلْنَاكَ اِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

Artinya: “Dan kami tidak mengutusmu (Muhammad) melainkan (untuk menjadi) rahmat bagi seluruh alam,” (Q.S. Al-Anbiya: 107)

Dengan nilai dan doktrin-doktrin ajarannya, agama yang saat ini dipeluk oleh sekitar 1,7 miliyar penduduk Bumi ini menjadi ruh kehidupan bagi masyarakat global. Meski terkadang masih saja ada aksi-aksi biadab terorisme yang mengatasnamakan Islam, namun hal itu tidak membuat umatnya berpindah pada keyakinan lain. Karena sesungguhnya tindakan brutal ekstrimis tidak ada dalam ajaran agama manapun, tak terkecuali Islam.

Kosmopolitanisme tampak ke permukaan tatkala agama (Islam) menjadi alat dialog antar kebudayaan. Selain itu juga membuka ruang seluas-luasnya bagi bangsa-bangsa, suku-suku, dan peradaban lain untuk “beramah-tamah” sehingga, berbagai konflik yang selama ini muncul di berbagai negara (khususnya yang mengatasnamakan Islam) dapat dicegah.

Sementara aksi terorisme yang selama ini mengguncang kedamaian masyarakat global tidak lain disebabkan oleh kegagalan penganut agama dalam memahami doktrin-doktrin keyakinannya. Ahmad Syafii Ma’arif mengungkapkan, salah satu faktor dominan kemunculan aksi-aksi persekusi yang mengatasnamakan agama disebabkan oleh ketidakfahaman pemeluk agama mengenai pluralisme. Masih adanya anggapan bahwa pluralisme adalah agenda Barat yang akan menghancurkan umat beragama pada kalangan agamawan menjadikannya ekslusif terhadap pemikiran-pemikiran modern tersebut.

Padahal, seperti halnya di awal artikel ini yang menyebutkan bahwa watak Islam sangatlah kosmopolit. Islam sangat menerima kemajemukan, mensyukuri keragaman, mengajarkan toleransi dan menciptakan kerukunan. Maka sudah saatnya bagi umat Islam untuk senantiasa mempraktikkan dialog antara Islam dan agama-agama yang lain. Melalui proses dialog, akan memungkinkan terciptanya suasana saling belajar. Dialog juga akan memungkinkan diantara agama, bangsa, suku, dan kelompok untuk saling bertukar pemahaman.

Kalau suasana saling belajar memahami dapat terwujud, maka sangat mungkin cita-cita untuk menciptakan perdamaian global akan mudah tercapai. Tetapi kalau belum-belum sudah saling mengkafirkan, lantas apa yang bakal terjadi? Pastilah kekacauan dan peperangan seperti yang terjadi selama ini. Termasuk salah satu yang perlu didialogkan antara barat dan Islam adalah gagasan perlunya konsep pluralisme, sebuah konsep yang berasal dari Barat yang bertujuan untuk menciptakan harmonisasi di antara agama-agama di dunia.

Adanya perbedaan pandangan dalam berkeyakinan merupakan keniscayaan yang tidak terbantahkan. Namun keniscayaan dalam beragama harus ditampilkan dengan wajah damai dan penuh persaudaraan. Salah satu cara untuk mewujudkan cita-cita mulia, yaitu dunia yang damai dan toleran, kiranya perlu keberanian membongkarkerangka berfikir masyarakat yang selama ini masih cenderung ekslusif dan dogmatis.

Umat yang Kosmopolit

Islam merupakan agama yang mengajarkan nilai dan moral kebaikan bagi seluruh alam. Namun bagaimana sesungguhnya realitas yang tampak di era kekinian?

Kita akan terhenyak bila menyaksikan sejumlah peristiwa memilukan yang terjadi dalam beberapa dekade di negeri ini. Hampir setiap hari kita dipertontonkan dengan ulah sebagian orang yang membakar hutan, menghancurkan tempat beribadah agama lain, atau wajah korup para elit politik kita. Mereka adalah orang-orang yang notabenebergama Islam, namun tingkah lakunya sama sekali tidak mencerminkan sebagai muslim.

Selain itu, meski berbagai pemikiran modern –seperti halnya tema-tema hak asasi manusia, demokrasi dan pluralitas, bahaya diskriminasi, serta perbedaan ethno-kultural dan agama– telah membumi di bumi pertiwi, namun sebagian umat Islam belum bisa menerimanya. Bahkan ada sebagaian kelompok umat Islam yang dengan sangat terang menjatuhi ide-ide progresif ini sebagai buah pemikiran orang-orang kafir.

Demikianlah potret buram umat Islam yang dapat kita saksikan hari ini. Sebagian pihak tetap keukeuhmenolak demokrasi, bersikap acuh terhadap penerapan HAM, dan justru melawannya dengan sikap takfir(mengkafirkan kelompok yang berbeda pendapat). Tentu saja, hal ini sangat disayangkan terlebih pemikiran-pemikiran yang berkembang di era kekinian tersebut menjadi bagian dari watak kosmopolitan Islam. Perjuangan HAM, demokrasi dan pluralitas, serta mencegah bahaya diskriminasi adalah nilai-nilai universal yang semua masyarakat dunia menyuarakannya.

Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, dapatlah dikatakan sebagai representasi dari corak Islam yang menampilkan moralitas kosmopolit. Meski dalam beberapa tesis menyebutkan bahwa Persyarikatan ini bergeser ke arah konservatif (conservative turn) –seperti yang terlihat pada tulisan Martin van Bruinessen (ISEAS: 2013), serta Robin Bush dan Budhy Munawar-Rachman (ISEAS: 2014)– namun nyata-nyata pandangan itu tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Pasalnya sejak 2015, banyak perubahan yang terjadi di Muhammadiyah yang kadang luput dari pengamatan orang asing. Ada gerakan konsolidasi ideologi, diantaranya dengan upaya membendung politisasi Muhammadiyah dan menolak infiltrasi partai politik ke dalam gerakan Muhammadiyah. Upaya lainnya adalah menjembatani antara kubu “Islam murni” (konservatif) dan kubu “Islam progresif” (Ahmad Nadjib Burhani: 2015).

Yang paling mencolok adalah upaya Din Syamsuddin pada periode keduanya (2010-2015) yang getol menyuarakan dialog agama hingga ke tingkat global. Ia berbicara tentang pentingnya kerukunan hidup bergama, perdamaian, dan perubahan iklim di berbagai konferensi tingkat dunia. Selain itu, yang tak kalah fenomenal adalah upayanya menyuarakan jihad konstitusi. Muhammadiyah memandang bahwa banyak pasal undang-undang di negeri yang mencekik leher rakyat. Karena itu, jihad konstitusi penting untuk disuarakan agar rakyat dapat menikmati haknya.

Pada Muktamar Makassar (Agustus, 2015), Muhammadiyah juga dengan sengaja mengambil tema “Islam Berkemajuan”. Yunahar Ilyas menjelaskan bahwa tema ini merupakan etos kerja Muhammadiyah untuk melakukan terobosan progresif di masa mendatang. Ia adalah konsep yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu, dan senantiasa satu langkah lebih maju dalam sumbangsih pemikiran Islam dan kebangsaan.

Semangat Muhammadiyah mengambil tema Islam yang berkemajuan tidak lain termotivasi dari keluruhan moralitas yang terkandung dari ajaran-ajaran Islam. Tema-tema yang diperjuangkan Muhammadiyah tersebut sekaligus menegaskan bahwa sejatinya Islam benar-benar memiliki watak kosmopolit. Sementara berbagai tindakan dan aksi kekerasan yang selama ini mengatasnamakan Islam adalah jauh dari doktrin Islam. Nafi’ Muthohirin

Nafi Muthohirin

Nafi Muthohirin

Staf Program at Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM)
NAFI’ MUTHOHIRIN adalah Dosen Agama di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sekaligus sebagai Direktur Riset di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM UMM). Pendidikan magisternya di jurusan Kajian Agama dan Studi Perdamaian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2014). Minat kajiannya berpusat pada tema-tema Islam dan Perdamaian; Radikalisme dan Kekerasan Ekstrimisme, serta Multikulturalisme. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan, di antaranya adalah: (1) Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus (IndoStrategi, Jakarta: 2014); (2) Mahasiswa di Pusaran Fundamentalisme Islam Kampus: Studi Kasus di Universitas Indonesia (Maarif Institute, Jakarta: 2014); (3) Radikalisme Islam dan Pergerakannya di Media Sosial (Jurnal Afkaruna, UMY: 2015); (4) Reproduksi Salafi: Dari Kesunyian Apolitis Menuju Jihadis (Maarif Institute, dalam proses). Nafi’ memiliki pengalaman yang panjang di bidang jurnalistik, di antaranya pernah bekerja di: (1) MATAN (PW Muhammadiyah Jawa Timur, Surabaya: 2009-2010); (2) Rakyat Merdeka (Jawa Pos Grup, Jakarta, 2010-2012); (3) Koran SINDO (MNC Grup, Jakarta: 2011-2015); (4) MONDAY Magz (Jakarta, Okt 2015 – Agt 2016). Beberapa artikelnya tersebar di sejumlah harian, seperti di Radar Surabaya, Malang Post, Koran SINDO, Radar Banten, dan GeoTimes.
Nafi Muthohirin

Latest posts by Nafi Muthohirin (see all)


Spread the love

Nafi Muthohirin

NAFI’ MUTHOHIRIN adalah Dosen Agama di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sekaligus sebagai Direktur Riset di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM UMM). Pendidikan magisternya di jurusan Kajian Agama dan Studi Perdamaian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2014). Minat kajiannya berpusat pada tema-tema Islam dan Perdamaian; Radikalisme dan Kekerasan Ekstrimisme, serta Multikulturalisme. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan, di antaranya adalah: (1) Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus (IndoStrategi, Jakarta: 2014); (2) Mahasiswa di Pusaran Fundamentalisme Islam Kampus: Studi Kasus di Universitas Indonesia (Maarif Institute, Jakarta: 2014); (3) Radikalisme Islam dan Pergerakannya di Media Sosial (Jurnal Afkaruna, UMY: 2015); (4) Reproduksi Salafi: Dari Kesunyian Apolitis Menuju Jihadis (Maarif Institute, dalam proses). Nafi’ memiliki pengalaman yang panjang di bidang jurnalistik, di antaranya pernah bekerja di: (1) MATAN (PW Muhammadiyah Jawa Timur, Surabaya: 2009-2010); (2) Rakyat Merdeka (Jawa Pos Grup, Jakarta, 2010-2012); (3) Koran SINDO (MNC Grup, Jakarta: 2011-2015); (4) MONDAY Magz (Jakarta, Okt 2015 – Agt 2016). Beberapa artikelnya tersebar di sejumlah harian, seperti di Radar Surabaya, Malang Post, Koran SINDO, Radar Banten, dan GeoTimes.

Leave a Comment

Your email address will not be published.