By / Kolom

Mengartikan Kembali Makna Jihad dan Teror

Spread the love

Di antara kita tentu masih ingat dengan sosok Santoso alias Abu Wardah. Dia adalah Pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) dan teroris paling dicari oleh pemerintah Indonesia selama beberapa tahun sebelum aksi terornya bisa dihentikan oleh Satgas Gabungan Operasi Tinombala Polri-TNI di pegunungan Tambarana, Poso, Sulawesi Tengah, pada Juni 2016.

Kematian Santoso ternyata tak memutus geliat mata rantai terorisme di Indonesia. Saat ini, masih terdapat 19 orang pengikut militannya yang masih bergerilya di pegunungan Tambarana. Bahkan, jika Anda mengikuti pemberitaan media, dalam beberapa pecan terakhir ini aksi penembakan dan penangkapan terhadap terduga teroris, seperti yang terjadi di Tuban dan Lamongan, membuktikan bahwa memang sel terorisme tak mudah ntuk dimatikan.

Pada artikel ini, penulis akan lebih memfokuskan perhatian terhadap makna jihad dan terorisme dengan mengamati fenomena pada setiap kemunculan tewasnya teroris. Menurut hemat penulis, ada yang menarik sekaligus susah untuk dinalarkan dengan akal sehat ketika melihat pemakaman pelaku teror yang mengatasnamakan agama seperti Amrozi atau Santoso yang tampak dielu-elukan oleh publik.

Bahkan pada kasus penangkapan terduga teroris di Lamongan serta tewasnya pelaku teror di Tuban beberapa waktu lalu, masih saja banyak yang membelanya –paling tidak ini bisa diamati melalui berbagai perbincangan di grup-grup media sosial.

Pada prosesi pemakaman jenazah Santoso tahun lalu, misalnya, ia diantarkan oleh ribuan orang, mulai dari keluarga, tetangga, hingga para simpatisannya yang berdatangan dari beberapa desa di luar daerahnya. Uniknya, memasuki kawasan pemakaman, sebagaimana diberitakan sejumlah media online, terbentang spanduk bertuliskan “Selamat Datang Syuhada Poso Santoso alias Abu Wardah”.

Kemudian, sejumlah media online yang selama ini mendukung gerakan fundamentalisme Islam juga bersikap hiperbola dengan memberitakan bahwa bau jenazah Santoso wangi, senyum di wajahnya mengembang, serta fisiknya utuh tak seperti layaknya orang yang meninggal di medan perang. Seolah-olah ingin menjelaskan kepada publik bahwa apa yang dilakukan Santoso bersama militan MIT selama ini perlu diteladani dan didukung.

Fakta tersebut menjelaskan bahwa sebagian warga di Poso Pesisir, daerah tempat tinggal Santoso, menganggap pergerakan Santoso (merampok bank, daulat kepada ISIS, upaya mendirikan negara Islam, serta mengancam akan menyerang Istana negara dan Polda Metro Jaya) adalah benar karena dengan gagah berani hingga akhir hayatnya berjuang membela Islam. Tak heran, bila nama Santoso dielu-elukan, dipuji, bahkan area makamnya dijadikan tempat mengirim doa.

Kejadian yang demikian ini sama dengan yang terjadi ketika gembong teroris Bom Bali 2002, Amrozi dan Imam Samudera, dihukum mati oleh regu tembak pada 2008. Saat jenazah keduanya digiring ke tempat pemakaman, ribuan orang mengikuti di belakangnya. Bahkan hingga kini, makam Amrozi di Solokuro, Lamongan masih dikunjungi orang untuk mengirim do’a di sana, sementara pasir di atas makamnya kerap dibawa pulang karena dianggap bisa mendatangkan berkah.

Jihad dan Teror

Dengan melihat fakta banyaknya orang yang mengelu-elukan Santoso atau Amrozi, menyadarkan kita semua bahwa pemahaman keagaman umat Islam di Indonesia masih dipertanyakan. Sebagian umat Muslim di negeri ini masih belum bisa secara kritis membedakan antara terorisme dengan jihad. Tak pelak, akibat sulit memahami keduanya, kematian Santoso beberapa waktu lalu dibentangkan ucapan selamat sebagai Syuhada (pejuang yang mati syahid di medan jihad).

Terorisme merupakan ideologi dan gerakan radikal. Tak hanya radikal secara pemikiran, melainkan juga secara tindakan. Sayangnya, dalam beberapa dekade terakhir, terorisme kerap dihubungkan dengan persoalan agama (khususnya Islam), terlebih karena aksi-aksi teror yang terjadi di banyak negara selama ini pelakunya mengusung ideologi keagamaan, pendirian negara Islam dan kebencian terhadap Barat. Sejumlah sarjana Barat pun memperparah keadaan karena menyandingkan ideologi terorisme dengan jihadisme, akibatnya kerancuan kedua kata itu semakin sulit diurai.

Faktor kemunculan terorisme bukanlah melulu mengenai tafsir keagamaan yang salah atau pengertian jihad yang sesat pikir. Lebih dari itu, aksi-aksi teror atas nama Islam menyeruak, khususnya pasca peristiwa 11 September 2001, karena geo politik dan ekonomi global yang tidak menguntungkan bagi umat Islam (negara Islam) pasca keruntuhan Daulah Turki Ustmani (1924). Sebagian kelompok muslim merasa tersubordinasi dalam bidang politik, kebudayaan, pendidikan dan ekonomi di kancah global, sehingga ideologi kekerasan dipilih menjadi jalan mengembalikan kedigdayaan umat Islam.

Umat Islam memiliki dua sumber pengetahuan utama, yaitu al-Qur’an dan al-Hadist. Kedua sumber tersebut menjelaskan tentang jihad. Dari 114 surat dan 6.234 ayat dalam al-Qur’an hanya 28 surat yang bisa dijadikan rujukan untuk jihad, sedangkan kata “jihad” hanya disebut sebanyak 4 kali (aT-Taubah: 24, al-Hajj: 78, al-Furqon: 52, dan al-Mumtahanah: 1) (Michael David Bonner, Jihad in Islamic History: 2006).

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, jihad dapat diartikan sebagai sebuah upaya yang sungguh-sungguh atau dengan keras untuk mencapai kebaikan. Sementara arti yang lain juga menyebut jihad sebagai perang di jalan Allah untuk mempertahankan kebenaran (Islam) dan memerangi orang-orang kafir. Pengertian jihad yang terakhir inilah yang sering dijadikan “alat justifikasi kebenaran” bagi kelompok radikal Islam.

Padahal, kata “jihad” dalam al-Qur’an, tidak ada yang secara mendetail memerintah umat Islam supaya berperang di jalan Allah. Sebaliknya, kata “jihad” ditujukan kepada umat Islam untuk tidak mencintai keluarga dan segala yang kita miliki melebihi cinta kita kepada Allah dan rasul-Nya (at-Taubah:24) dan bersungguh-sunggguh dalam beragama (al-Hajj: 78). Hanya surat al-Furqan ayat 52 yang pengertian jihad dimaknai untuk tidak menaati orang-orang kafir, dan diperintahkan untuk berjihad akbar dengan al-Qur’an.

Sebab itu, jihad tidaklah bisa diartikan secara tunggal. Meski riwayat Nabi Muhammad dan para sahabatnya memberikan teladan berjihad di jalan Allah melalui perang melawan orang-orang kafir, namun sebelum berperang terdapat konteks yang menjadi prasyarat. Terlebih realitas kehidupan sosial bangsa-bangsa Arab saat itu dibebani era peperangan yang tengah berlangsung. Sebagai catatan juga, dalam berperang di jalan Allah, tidak boleh membunuh anak-anak, warga sipil dan perempuan.

Sebaliknya, realitas yang ditampilkan kelompok teroris di Indonesia, atau juga organisasi teroris di Irak, Suriah, Al-Jazair, dan Pakistan sangat jauh dari perjuangan jihad di jalan Allah. Akibat bom bunuh diri yang kerap mereka lakukan, puluhan bahkan ratusan nyawa warga sipil (anak-anak dan perempuan) menjadi korbannya. Karena itu, menurut hemat penulis, umat Islam di Tanah Air perlu bersikap kritis dan cerdas bahwa Santoso dan kelompok militannya yang “berjuang mengatasnamakan Islam” tersebut tak lebih dari sebuah komplotan teroris yang merusak kenyamanan publik, mengancam kedaulatan negara dan mencoreng Islam.

 

Nafi Muthohirin

Nafi Muthohirin

Staf Program at Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM)
NAFI’ MUTHOHIRIN adalah Dosen Agama di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sekaligus sebagai Direktur Riset di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM UMM). Pendidikan magisternya di jurusan Kajian Agama dan Studi Perdamaian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2014). Minat kajiannya berpusat pada tema-tema Islam dan Perdamaian; Radikalisme dan Kekerasan Ekstrimisme, serta Multikulturalisme. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan, di antaranya adalah: (1) Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus (IndoStrategi, Jakarta: 2014); (2) Mahasiswa di Pusaran Fundamentalisme Islam Kampus: Studi Kasus di Universitas Indonesia (Maarif Institute, Jakarta: 2014); (3) Radikalisme Islam dan Pergerakannya di Media Sosial (Jurnal Afkaruna, UMY: 2015); (4) Reproduksi Salafi: Dari Kesunyian Apolitis Menuju Jihadis (Maarif Institute, dalam proses). Nafi’ memiliki pengalaman yang panjang di bidang jurnalistik, di antaranya pernah bekerja di: (1) MATAN (PW Muhammadiyah Jawa Timur, Surabaya: 2009-2010); (2) Rakyat Merdeka (Jawa Pos Grup, Jakarta, 2010-2012); (3) Koran SINDO (MNC Grup, Jakarta: 2011-2015); (4) MONDAY Magz (Jakarta, Okt 2015 – Agt 2016). Beberapa artikelnya tersebar di sejumlah harian, seperti di Radar Surabaya, Malang Post, Koran SINDO, Radar Banten, dan GeoTimes.
Nafi Muthohirin

Latest posts by Nafi Muthohirin (see all)


Spread the love

Nafi Muthohirin

NAFI’ MUTHOHIRIN adalah Dosen Agama di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sekaligus sebagai Direktur Riset di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM UMM). Pendidikan magisternya di jurusan Kajian Agama dan Studi Perdamaian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2014). Minat kajiannya berpusat pada tema-tema Islam dan Perdamaian; Radikalisme dan Kekerasan Ekstrimisme, serta Multikulturalisme. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan, di antaranya adalah: (1) Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus (IndoStrategi, Jakarta: 2014); (2) Mahasiswa di Pusaran Fundamentalisme Islam Kampus: Studi Kasus di Universitas Indonesia (Maarif Institute, Jakarta: 2014); (3) Radikalisme Islam dan Pergerakannya di Media Sosial (Jurnal Afkaruna, UMY: 2015); (4) Reproduksi Salafi: Dari Kesunyian Apolitis Menuju Jihadis (Maarif Institute, dalam proses). Nafi’ memiliki pengalaman yang panjang di bidang jurnalistik, di antaranya pernah bekerja di: (1) MATAN (PW Muhammadiyah Jawa Timur, Surabaya: 2009-2010); (2) Rakyat Merdeka (Jawa Pos Grup, Jakarta, 2010-2012); (3) Koran SINDO (MNC Grup, Jakarta: 2011-2015); (4) MONDAY Magz (Jakarta, Okt 2015 – Agt 2016). Beberapa artikelnya tersebar di sejumlah harian, seperti di Radar Surabaya, Malang Post, Koran SINDO, Radar Banten, dan GeoTimes.

Leave a Comment

Your email address will not be published.