By / Kolom

Mengenal Farid Esack dan Semangat Islam Liberatif (2)

Spread the love

Disertasi Esack dengan tajuk Qur’an, Liberation and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Against Oppression adalah karya monumentalnya. Di Indonesia, buku ini telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Mizan pada tahun 2000 dengan judul Membebaskan yang Tertindas: Al-Qur’an, Liberalisme dan Pluralisme. Yang membuat buku ini “berbunyi nyaring” di antaranya karena berisi tentang latar kondisi sosial politik di Afrika Selatan yang terjadi pada era rezim Apartheid pada tahun 1948 hingga 1991, solidaritas antar-iman melawan rezim, serta kontekstualisasi ayat-ayat Al-Qur’an dalam bekerjasama dengan kelompok agama berbeda untuk melawan kemiskinan, ketidakadilan dan pemerintahan yang bengis.

Buku tersebut bukan hanya sekedar mengulas teori atau sekedar berwacana, melainkan sangat bernuansa refleksi dan praksis-liberatif. Tidak mengherankan bila karya ini banyak dirujuk para cendekiawan di seluruh dunia, khususnya yang berkosentrasi terhadap studi-studi Al-Qur’an. Bahkan karena buku ini, Esack kerap didaulat menjadi dosen tamu di berbagai kampus ternama di dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Qur’an, Liberation and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Against Oppression di dalamnya mengandung tiga semangat solidaritas antar-iman yang sangat penting sebagai hasil dari pendekatan hermeneutika Esack menafsiri sejumlah ayat Al-Qur’an terhadap fakta sosial yang dihadapinya bersama warga kulit hitam lainnya di Afsel. Ketiga semangat yang penting tersebut, yaitu: i) Pluralisme Agama; ii) Afinitas; iii) dan Paradigma Eksodus.

Pertama, Pluralisme Agama. Esack mendasarkan pemikirannya mengenai pluralisme agama berdasarkan pada sejumlah ayat Al-Qur’an, misalnya QS. Al-Baqarah: 62, al-Hujurat: 13, dan al-Ma’idah: 48. Surat al-Baqarah: 62 yang mengatakan bahwa “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi’in, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, Hari Akhir, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”, sesungguhnya ayat ini menjadi landasan teologis bagi Esack untuk mengemukakan kepada umat Islam bahwa tidak ada larangan untuk bekerjasama dengan kelompok-kelompok agama lain. Ayat ini, juga dengan sejumlah ayat lainnya yang mengandung tafsiran tentang urgensi pluralisme, dijadikan dasar bagi Esack untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat di sekitarnya untuk menyuarakan pembebasan.

Ayat tersebut sangat jelas membelalakkan mata kita semua bahwa Allah menjamin pahala yang sama bagi penganut Yahudi, Nasrani dan Sabi’in sebagaimana umat Muslim bila mau mengamini keberadaan Allah, Hari Akhir dan mengamalkan amalan yang baik. Ayat tersebut, jika dipikirkan secara mendalam, sungguh melampaui batas-batas pemikiran sebagian umat Islam hari ini yang masih melarang menjalin kerjasama dengan warga yang berbeda keyakinan.

Kecerdasan membangun ayat-ayat meta-teori untuk menjalin solidaritas antar-iman ini yang dipakai Esack yang akhirnya berperan serta dalam meruntuhkan rezim Apartheid. Ayat-ayat liberatif tersebut dipakai Esack sebagai basis ideologi dan teologi bagi setiap pergerakannya, pertemuan-pertemuannya dengan para pejuang anti-apartheid, serta melepas segela bentuk belenggu ketertindasan, ketidakadilan dan kemiskinan (yang dalam konteks ini terjadi di Afsel).

Pada poin ini, sesungguhnya visi teologi pembebasan Islam mewujud. Jadi, Islam sendiri selain menghendaki kedamaian, kasih dan sayang, juga memiliki spirit moderasi dan liberasi dalam rangka memuliakan semua manusia. Dan, semangat pembebasan ini bukan semata-mata terinsipirasi oleh “teologi pembebasan” yang sebelumnya telah dialami oleh umat Kristen di Eropa atau Amerika Latin, tetapi ajaran Islam bahkan agama-agama lain memuat semangat kemanusiaan universal tersebut.

Nafi Muthohirin

Nafi Muthohirin

Staf Program at Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM)
NAFI’ MUTHOHIRIN adalah Dosen Agama di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sekaligus sebagai Direktur Riset di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM UMM). Pendidikan magisternya di jurusan Kajian Agama dan Studi Perdamaian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2014). Minat kajiannya berpusat pada tema-tema Islam dan Perdamaian; Radikalisme dan Kekerasan Ekstrimisme, serta Multikulturalisme. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan, di antaranya adalah: (1) Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus (IndoStrategi, Jakarta: 2014); (2) Mahasiswa di Pusaran Fundamentalisme Islam Kampus: Studi Kasus di Universitas Indonesia (Maarif Institute, Jakarta: 2014); (3) Radikalisme Islam dan Pergerakannya di Media Sosial (Jurnal Afkaruna, UMY: 2015); (4) Reproduksi Salafi: Dari Kesunyian Apolitis Menuju Jihadis (Maarif Institute, dalam proses). Nafi’ memiliki pengalaman yang panjang di bidang jurnalistik, di antaranya pernah bekerja di: (1) MATAN (PW Muhammadiyah Jawa Timur, Surabaya: 2009-2010); (2) Rakyat Merdeka (Jawa Pos Grup, Jakarta, 2010-2012); (3) Koran SINDO (MNC Grup, Jakarta: 2011-2015); (4) MONDAY Magz (Jakarta, Okt 2015 – Agt 2016). Beberapa artikelnya tersebar di sejumlah harian, seperti di Radar Surabaya, Malang Post, Koran SINDO, Radar Banten, dan GeoTimes.
Nafi Muthohirin

Latest posts by Nafi Muthohirin (see all)


Spread the love

Nafi Muthohirin

NAFI’ MUTHOHIRIN adalah Dosen Agama di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sekaligus sebagai Direktur Riset di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM UMM). Pendidikan magisternya di jurusan Kajian Agama dan Studi Perdamaian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2014). Minat kajiannya berpusat pada tema-tema Islam dan Perdamaian; Radikalisme dan Kekerasan Ekstrimisme, serta Multikulturalisme. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan, di antaranya adalah: (1) Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus (IndoStrategi, Jakarta: 2014); (2) Mahasiswa di Pusaran Fundamentalisme Islam Kampus: Studi Kasus di Universitas Indonesia (Maarif Institute, Jakarta: 2014); (3) Radikalisme Islam dan Pergerakannya di Media Sosial (Jurnal Afkaruna, UMY: 2015); (4) Reproduksi Salafi: Dari Kesunyian Apolitis Menuju Jihadis (Maarif Institute, dalam proses). Nafi’ memiliki pengalaman yang panjang di bidang jurnalistik, di antaranya pernah bekerja di: (1) MATAN (PW Muhammadiyah Jawa Timur, Surabaya: 2009-2010); (2) Rakyat Merdeka (Jawa Pos Grup, Jakarta, 2010-2012); (3) Koran SINDO (MNC Grup, Jakarta: 2011-2015); (4) MONDAY Magz (Jakarta, Okt 2015 – Agt 2016). Beberapa artikelnya tersebar di sejumlah harian, seperti di Radar Surabaya, Malang Post, Koran SINDO, Radar Banten, dan GeoTimes.

Leave a Comment

Your email address will not be published.