By / Kolom

Mengenal Farid Esack dan Spirit Islam Liberatif

Spread the love

Afrika Selatan, ketika Farid Esack dilahirkan (1959), telah dikuasai oleh rezim Apartheid. Kemiskinan menjalar di mana-mana, khususnya di kawasan tempat tinggal Esack di Cape Town yang merupakan daerah Koloni Inggris saat itu. Esack dengan lima saudaranya hidup dalam penderitaan ganda (double sufferings); miskin dan berkulit hitam. Kondisi ini membuatnya “terusir” dari daerah asal, dan berkumpul dengan orang-orang kulit berwarna serta berdarah campuran di Bonteheuwel, kota kecil di Cape Flats.

Kondisi keluarga dan lingkungan yang dimiskinkan itu, membuat Esack telah aktif dalam dunia pergerakan sejak usia 9 tahun. Pada mulanya, dia ikut serta dalam sebuah gerakan Islam revivalis Jama’ah Tabligh, lalu di tahun-tahun berikutnya dia justru menjadi pemimpin dalam gerakan/organisasi lokal, National Youth Action yang menentang rezim otoritarian Apartheid. Karena sikap dan suara anti-Apartheid yang begitu lantang membuatnya harus berkali-kali berurusan dengan aparat keamanan setempat.

Pada 1974, jalan intelektualnya baru dimulai. Pada tahun itu, dia pergi ke Pakistan untuk kuliah di jurusan Islamic Studies Jami’at al-Ulum al-Islamiyah, Karachi, Pakistan. Selama 9 tahun kuliah, akhirnya dia mendapatkan gelar kesarjanaan (maulana) di bidang Teologi Islam dan Sosiologi. Uniknya, ketika masa-masa kuliah Esack tidak melanjutkan keaktifannya di Jamaah Tabligh atau ikut terlibat pada aksi-aksi Thaliban yang saat itu banyak diikuti oleh mahasiswa di Pakistan. Justru, dia malah memilih aktif di organisasi pemuda Kristen Breakthrough, sebuah organisasi kepemudaan yang kritis terhadap segala bentuk diskriminasi kepada masyarakat beragama, baik Kristen maupun agama lain di Pakistan.

Jalan panjang sebagai aktivis mahasiswa tersebut dia lanjutkan manakala kembali ke negeri asalnya. Dia masuk dalam organisasi kepemudaan Muslim lokal bernama Muslim Youth Movement of South Africa. Selang beberapa tahun, dia bersama tiga temannya, mulai berinisiatif mendirikan “ruang menyuarakan pendapat” sendiri dalam organisasi Muslim Against Oppression, yang belakangan berganti nama menjadi Call of Islam. Organisasi pergerakan inilah yang menjadi tempat di mana Esack bersuara lebih lantang melawan reezim Apartheid. Dengan posisinya sebagai koordinator nasional, Esack memobilisasi masyarakat beragama (Muslim, Kristiani dan agama-agama lain) yang mengalami ketertindasan untuk menentang kebijakan-kebijakan pemisahan ras yang dipenuhi dengan ketidakadilan.

Call of Islam menjadi bagian penting dalam United Democratic Front. Melalui Call of Islam, dia melakukan ratusan pertemuan dengan berbagai organisasi lain yang memiliki visi sama menumbangkan rezim Apartheid. Perjumpaan-perjumpaan yang diakibatkan oleh rasa dan nasib yang sama itulah, yang membuat Esack meyakini bahwa di dalam setiap agama, masing-masing memiliki nilai dan ajaran yang mengangkat derajat umatnya untuk hidup dalam keadilan, ketentraman, perdamaian dan kasih sayang.

Selanjutnya, pasca rezim Apartheid tumbang pada 1990. Esack kembali ke Pakistan untuk melanjutkan studinya pada jurusan Studi-Studi Teologi di Jamiah Abi Bakr, Karachi, Pakistan. Lalu, empat tahun kemudian, dia meneruskan studi doktoralnya di Pusat Studi Islam dan Hubungan Islam-Kristen di University of Birmingham. Dia memgang gelar sebagai doktor Studi Al-Qur’an dengan disertasinya yang berjudul Qur’an, Liberation and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Against Oppression.

 

Nafi Muthohirin

Nafi Muthohirin

Staf Program at Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM)
NAFI’ MUTHOHIRIN adalah Dosen Agama di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sekaligus sebagai Direktur Riset di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM UMM). Pendidikan magisternya di jurusan Kajian Agama dan Studi Perdamaian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2014). Minat kajiannya berpusat pada tema-tema Islam dan Perdamaian; Radikalisme dan Kekerasan Ekstrimisme, serta Multikulturalisme. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan, di antaranya adalah: (1) Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus (IndoStrategi, Jakarta: 2014); (2) Mahasiswa di Pusaran Fundamentalisme Islam Kampus: Studi Kasus di Universitas Indonesia (Maarif Institute, Jakarta: 2014); (3) Radikalisme Islam dan Pergerakannya di Media Sosial (Jurnal Afkaruna, UMY: 2015); (4) Reproduksi Salafi: Dari Kesunyian Apolitis Menuju Jihadis (Maarif Institute, dalam proses). Nafi’ memiliki pengalaman yang panjang di bidang jurnalistik, di antaranya pernah bekerja di: (1) MATAN (PW Muhammadiyah Jawa Timur, Surabaya: 2009-2010); (2) Rakyat Merdeka (Jawa Pos Grup, Jakarta, 2010-2012); (3) Koran SINDO (MNC Grup, Jakarta: 2011-2015); (4) MONDAY Magz (Jakarta, Okt 2015 – Agt 2016). Beberapa artikelnya tersebar di sejumlah harian, seperti di Radar Surabaya, Malang Post, Koran SINDO, Radar Banten, dan GeoTimes.
Nafi Muthohirin

Latest posts by Nafi Muthohirin (see all)


Spread the love

Nafi Muthohirin

NAFI’ MUTHOHIRIN adalah Dosen Agama di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sekaligus sebagai Direktur Riset di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM UMM). Pendidikan magisternya di jurusan Kajian Agama dan Studi Perdamaian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2014). Minat kajiannya berpusat pada tema-tema Islam dan Perdamaian; Radikalisme dan Kekerasan Ekstrimisme, serta Multikulturalisme. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan, di antaranya adalah: (1) Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus (IndoStrategi, Jakarta: 2014); (2) Mahasiswa di Pusaran Fundamentalisme Islam Kampus: Studi Kasus di Universitas Indonesia (Maarif Institute, Jakarta: 2014); (3) Radikalisme Islam dan Pergerakannya di Media Sosial (Jurnal Afkaruna, UMY: 2015); (4) Reproduksi Salafi: Dari Kesunyian Apolitis Menuju Jihadis (Maarif Institute, dalam proses). Nafi’ memiliki pengalaman yang panjang di bidang jurnalistik, di antaranya pernah bekerja di: (1) MATAN (PW Muhammadiyah Jawa Timur, Surabaya: 2009-2010); (2) Rakyat Merdeka (Jawa Pos Grup, Jakarta, 2010-2012); (3) Koran SINDO (MNC Grup, Jakarta: 2011-2015); (4) MONDAY Magz (Jakarta, Okt 2015 – Agt 2016). Beberapa artikelnya tersebar di sejumlah harian, seperti di Radar Surabaya, Malang Post, Koran SINDO, Radar Banten, dan GeoTimes.

Leave a Comment

Your email address will not be published.