By / Kolom

Mengenang Gus Dur dan Gagasan Pribumisasi Islam

Spread the love

Abdurrahman Wahid –biasa disapa Gus Dur– adalah tokoh reformis Islam yang pernah dimiliki Indonesia. Gagasan pembaruannya tidak “copy paste” pemikiran Barat maupun Timur Tengah seperti halnya banyak dilakukan sebagian sarjana saat ini. Pemikirannya tentang Islam dan kebangsaan berdasar pada nilai kultural dan kearifan lokal negeri ini.

Gus Dur pernah belajar di Mesir, Baghdad, Belanda, Jerman dan Prancis. Akan tetapi, wacana dan pergerakan yang tengah berkembang di negara-negara tersebut saat itu, tidak lantas mempengaruhi ide-idenya. Dia malah bangga mengeskplorasi pemikiran keagamaannya berdasarkan pendekatan lokal-kultural. Di kemudian hari, gagasan tersebut lebih fenomenal disebut “Pribumisasi Islam.” Dia menolak diberlakukannya formalisasi syari’ah, ideologisasi dan pemakaian simbol-simbol Arab dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Dia menjelaskan, alasan tersebut sangat rasional karena Islam di Indonesia memiliki keragaman, karakter dan ciri tersendiri yang terwadahi dalam lokalitas kultural di mana Islam dianut. Bukan Islam ala Arab, Islam ala Iran atau Islam ala Turki, tetapi yang digagasnya adalah “Islam Pribumi” dalam konteks Indonesia.

Untuk mengaktulisasikan gagasan tersebut, pemaknaan terhadap Islam sebagai agama tidak terbatas pada penafsiran secara tekstual. Pemahaman yang lebih utuh dan terpadu akan lebih luas didapat jika pemaknaan Islam dapat dikontekstualisasikan dengan kondisi sosial, sehingga Islam tidak menjadi agama yang “khusus” bagi bangsa Arab atau Indonesia, melainkan memiliki paduan sebagai agama untuk semua umat. Namun, kata Gus Dur, agar tidak tercerabut dari keabsahannya ragam kebudayaan yang ada harus didukung oleh pendekatan tekstual sebagaimana terdapat dalam kaidah-kaidah fikih, dengan demikian Islam harus ditafsir sebagai proses partisispatif dan dinamis.

Artkiel ini bukan dalam rangka “menggarami lautan” karena tema ini sudah seringkali diangkat para cendekiawan muda Nahdlatul Ulama (NU). Buku-buku yang berkaitan dengan profil dan gagasan Gus Dur juga meluber saking banyaknya. Bahkan, setelah kepergiannya, tulisan-tulisan yang menggambarkan kiprahnya bermunculan. Meski begitu, saat ini setelah 6 tahun wafat (30 Desember 2009), pemikiran Gus Dur hanya menjadi karya usang yang tidak banyak difahami mayoritas masyarakat Islam di Indonesia. Keberagamaan masyarakat pribumi tetap tidak bisa dilepaskan dari pemakaian simbol-simbol yang selama ini dianggap bersumber dari ajaran Islam.

Hal ini karena sulit melepaskan anggapan masyarakat kita yang menganggap bahwa “Islam itu ya Arab”. Akibatnya, Islam yang berkembang lebih tampak sebagai proses Arabisasi Islam. Fenomena itu berlangsung dari dulu hingga kini, malah saat ini kondisinya lebih mengerikan. Sebab, apa yang dikhawatirkan Gus Dur mulai dapat disaksikan dalam realitas keseharian. Radikalisasi Islam yang mewujud dalam bentuk islamisasi publik adalah satu contoh dari banyak realitas yang muncul akhir-akhir ini. Islam menjadi hanya sebatas simbol atas label bisnis perbankan, jualan obat-obatan, aksi massa, bahkan peraturan sejumlah daerah. Hampir segala lini kehidupan mengatasnamakan Islam, padahal ini hanya kepentingan semu untuk menarik massa dan strategi pasar belaka.

Fenomena yang seperti ini menjadi tragedi elegis yang menggerus nilai substansi Islam. Akhirnya, Islam hanya akan menjadi satu dogma kering, yang setiap saat bisa dipakai untuk menjustifikasi kebenaran atas kelompok atau golongan tertentu, bahkan memobilisasi kebencian massa.

Padahal, keberagamaan seseorang akan jauh lebih punya makna jika mengutamakan nilai-nilai substantif dalam menjalankan amalan ibadahnya daripada harus mendahulukan dengan simbol-simbol. Karena beragama dengan mengedepankan kekuatan simbolik akan terjebak pada sesuatu yang ambigu, sehingga melahirkan gerakan fanatik-radikal. Fakta-fakta yang demikian tersebut dapat dirasakan saat ini dengan kemunculan sejumlah gerakan Islam dalam beberapa dekade terakhir. Dengan latarbelakang tersebut, Gus Dur lebih suka mendekatkan pemahaman Islam dengan jalan kultural ketimbang doktrinal.

Gus Dur pernah “menantang” umat Islam bahkan para ulama NU untuk mengganti ucapan salam “Assalamu’alaikum” dengan sapaan “selamat pagi, selamat siang atau selamat malam”, sehingga dia mendapat penolakan yang keras. Sekarang, gagasan tersebut terus mendapatkan pertentangan jauh lebih keras melalui berbagai ujaran kebencian yang menyebar di media sosial. Ibaratnya, semakin diredam gerakan islamisasi ruang publik semakin meluas.

Selintas gagasan mantan Ketua Umum PBNU itu sangat kontroversial terlebih ia mengungkapkannya pertama kali saat diwawancarai salah satu media massa Islam di tahun 1980-an. Namun, sejujurnya gagasan tersebut merupakan ide radikal yang ingin memposisikan Islam \lebih dekat dengan nilai-nilai kultural yang berkembang di Indonesia. Pengalaman hidupnya yang sudah berkeliling ke banyak negara, negara Islam maupun sekuler, turut mendewasakan pemikirannya dalam melihat realitas keberagamaan.

Pada satu kasus ini saja, sesungguhnya Gus Dur sudah meletakkan gagasan besarnya tentang Islam dan kebangsaan. Ia mengangkat tema yang sederhana dan substantif, tetapi banyak orang yang kurang menyadarinya. Pada beberapa tahun kemudian, sebagian ulama dan cendekiawan muslim lainnya baru menyadari bahwa sesungguhnya tidak ada persoalan terhadap gagasan itu. Ide ini adalah bentuk dakwah Islam yang diajarkan para Wali Songo di Jawa dan haruslah menjadi kewajiban umat Islam, terutama warga NU (karena Gus Dur sempat “diadili” para ulama NU) untuk melanjutkannya.

Nafi Muthohirin

Nafi Muthohirin

Staf Program at Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM)
NAFI’ MUTHOHIRIN adalah Dosen Agama di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sekaligus sebagai Direktur Riset di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM UMM). Pendidikan magisternya di jurusan Kajian Agama dan Studi Perdamaian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2014). Minat kajiannya berpusat pada tema-tema Islam dan Perdamaian; Radikalisme dan Kekerasan Ekstrimisme, serta Multikulturalisme. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan, di antaranya adalah: (1) Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus (IndoStrategi, Jakarta: 2014); (2) Mahasiswa di Pusaran Fundamentalisme Islam Kampus: Studi Kasus di Universitas Indonesia (Maarif Institute, Jakarta: 2014); (3) Radikalisme Islam dan Pergerakannya di Media Sosial (Jurnal Afkaruna, UMY: 2015); (4) Reproduksi Salafi: Dari Kesunyian Apolitis Menuju Jihadis (Maarif Institute, dalam proses). Nafi’ memiliki pengalaman yang panjang di bidang jurnalistik, di antaranya pernah bekerja di: (1) MATAN (PW Muhammadiyah Jawa Timur, Surabaya: 2009-2010); (2) Rakyat Merdeka (Jawa Pos Grup, Jakarta, 2010-2012); (3) Koran SINDO (MNC Grup, Jakarta: 2011-2015); (4) MONDAY Magz (Jakarta, Okt 2015 – Agt 2016). Beberapa artikelnya tersebar di sejumlah harian, seperti di Radar Surabaya, Malang Post, Koran SINDO, Radar Banten, dan GeoTimes.
Nafi Muthohirin

Latest posts by Nafi Muthohirin (see all)


Spread the love

Nafi Muthohirin

NAFI’ MUTHOHIRIN adalah Dosen Agama di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sekaligus sebagai Direktur Riset di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM UMM). Pendidikan magisternya di jurusan Kajian Agama dan Studi Perdamaian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2014). Minat kajiannya berpusat pada tema-tema Islam dan Perdamaian; Radikalisme dan Kekerasan Ekstrimisme, serta Multikulturalisme. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan, di antaranya adalah: (1) Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus (IndoStrategi, Jakarta: 2014); (2) Mahasiswa di Pusaran Fundamentalisme Islam Kampus: Studi Kasus di Universitas Indonesia (Maarif Institute, Jakarta: 2014); (3) Radikalisme Islam dan Pergerakannya di Media Sosial (Jurnal Afkaruna, UMY: 2015); (4) Reproduksi Salafi: Dari Kesunyian Apolitis Menuju Jihadis (Maarif Institute, dalam proses). Nafi’ memiliki pengalaman yang panjang di bidang jurnalistik, di antaranya pernah bekerja di: (1) MATAN (PW Muhammadiyah Jawa Timur, Surabaya: 2009-2010); (2) Rakyat Merdeka (Jawa Pos Grup, Jakarta, 2010-2012); (3) Koran SINDO (MNC Grup, Jakarta: 2011-2015); (4) MONDAY Magz (Jakarta, Okt 2015 – Agt 2016). Beberapa artikelnya tersebar di sejumlah harian, seperti di Radar Surabaya, Malang Post, Koran SINDO, Radar Banten, dan GeoTimes.

Leave a Comment

Your email address will not be published.