By / Kolom

Menjawab Islam Ekslusif yang Menguat, PUSAM dan IAIN Ambon Adakan Seminar Pendidikan Multikultural

Spread the love

Ambon, Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Universitas Muhammadiyah Malang bekerjasama dengan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon dan The Asia Foundation mengadakan Seminar Internasional “Pendidikan Multikultural”, yang diselenggarakan di Balai Diklat Pemerintah Provinsi Maluku, Ambon pada Jum’at (31/03).

Penyelenggaraan seminar ini akan diikuti pelatihan Living Values Education (LVE) selama dua hari, Sabtu – Minggu, (01-02/04). Ada banyak narasumber yang mengisi dua kegiatan tersebut. Mereka yang mengisi Seminar Internasional, yaitu Budhy Munawar-Rachman (TAF), Ahmad Arifi (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Bambang Q. Anies (UIN Gunung Djati Bandung), dan Hilary Syahranamual (Pastor dari Inggris).

Sementara yang menjadi narasumber dalam pelatihan LVE, di antaranya adalah Muqawim (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Gerardette Philips (Kongregasi Hati Kudus Yesus), Abidin Wakano (UIN Ambon), dan Rani Anggraeni Dewi (Universitas Paramadina), Zawawi Imron (Budayawan).

Pada seminar tersebut, Hilary Syahranamual menceritakan pengalamannya ketika menjadi guru agama di Inggris. Menurutnya, hingga hari ini, praktik pembelajaran agama di Inggris terus mencerminkan praktik pendidikan multikultural. guru agama di Inggris juga memiliki kewajiban untuk mengajarkan agama-agama lain, tapi sifatnya hanya sebatas informasi, bukan memberi ancaman.

“Akan tetapi, bedanya dengan di Ambon, praktik multikultural di Ambon lebih terasa. Persaudaraan (antar iman) di Ambon itu manis sekali. Memang ada konflik sedikit, tapi ketegangan-ketegangan itu bisa diharmoniskan dan kini kondisi Ambon sangat aman,” kata Syahranamual yang sudah tinggal di Ambon sejak tahun 1983 tersebut.

Di kesempatan yang sama, Budhy Munawar-Rachman menyebutkan, bahwa Ambon kini sangat progresif dalam ranah indeks kerukunan antarumat beragama. Maluku dalam 11 tahun pasca konflik, mampu mengembalikan kehidupan yang harmoni bagi pemeluk agama berbeda. “Maluku kini menjadi provinsi ketiga yang mampu menjaga kerukunan antarumat Bergama,” ujar Budhy.

Namun, kata budhy, pada konteks yang lebih luas, bahwa Indonesia mengalami sebuah kondisi yang keberagamaan yang menggelisahkan. Menurutnya, fundamentalisme dan radikalisme umat beragama di negeri ini terus mengalami peningkatan. Anehnya, peningkatan sikap beragaama yang tertutup itu dan menebar permusuhan itu tidak ada perlawanan yang kuat dari pemerintah dan masyarakat.

Hal Ini membuktikan, sebagaiman merujuk pada sejumlah penelitian tentang pergeseran corak pemikiran keberagamaan di Indonesia yang dilakukan oleh sejumlah LSM (seperti PPIM dan Setara Institute), bahwa masyarakat kita semakin intoleran. Salah satu buktinya adalah munculnya sekelompok orang yang ingin menjadikan “NKRI Bersyariah”. “Ideologi negara yang sudah final, kembali banyak orang yang mempertanyakannya. Kini banyak orang yang mempermasalahkan lagi tentang Pancasila, NKRI, kewargaan dan kedaulatan negara,” tutur Budhy.

Melihat kondisi keberagamaan yang seperti ini, sangat dikhawatirkan kehidupan beragama di Indonesia akan terancam karena setiap hari selalu disusupi dengan ketegangan-ketegangan. Sebab itu, penting bahwa pendidikan multikultural kembali digalakkan.

Menurut Ahmad Arifi, pendidikan multikultural sangat penting untuk diterapkan saat ini, bahkan masuk ke mata kuliah di perguruan tinggi. “Ini sangat penting terlebih dengan maraknya paham keagamaan yang kesannya berbasis ide-ide agama saat ini, tapi secara substansi tidak mengajarkan nilai-nilai Islam, seperti perdamaian dan toleransi,” ungkap Arifi.

Nafi Muthohirin

Nafi Muthohirin

Staf Program at Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM)
NAFI’ MUTHOHIRIN adalah Dosen Agama di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sekaligus sebagai Direktur Riset di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM UMM). Pendidikan magisternya di jurusan Kajian Agama dan Studi Perdamaian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2014). Minat kajiannya berpusat pada tema-tema Islam dan Perdamaian; Radikalisme dan Kekerasan Ekstrimisme, serta Multikulturalisme. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan, di antaranya adalah: (1) Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus (IndoStrategi, Jakarta: 2014); (2) Mahasiswa di Pusaran Fundamentalisme Islam Kampus: Studi Kasus di Universitas Indonesia (Maarif Institute, Jakarta: 2014); (3) Radikalisme Islam dan Pergerakannya di Media Sosial (Jurnal Afkaruna, UMY: 2015); (4) Reproduksi Salafi: Dari Kesunyian Apolitis Menuju Jihadis (Maarif Institute, dalam proses). Nafi’ memiliki pengalaman yang panjang di bidang jurnalistik, di antaranya pernah bekerja di: (1) MATAN (PW Muhammadiyah Jawa Timur, Surabaya: 2009-2010); (2) Rakyat Merdeka (Jawa Pos Grup, Jakarta, 2010-2012); (3) Koran SINDO (MNC Grup, Jakarta: 2011-2015); (4) MONDAY Magz (Jakarta, Okt 2015 – Agt 2016). Beberapa artikelnya tersebar di sejumlah harian, seperti di Radar Surabaya, Malang Post, Koran SINDO, Radar Banten, dan GeoTimes.
Nafi Muthohirin

Latest posts by Nafi Muthohirin (see all)


Spread the love

Nafi Muthohirin

NAFI’ MUTHOHIRIN adalah Dosen Agama di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sekaligus sebagai Direktur Riset di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM UMM). Pendidikan magisternya di jurusan Kajian Agama dan Studi Perdamaian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2014). Minat kajiannya berpusat pada tema-tema Islam dan Perdamaian; Radikalisme dan Kekerasan Ekstrimisme, serta Multikulturalisme. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan, di antaranya adalah: (1) Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus (IndoStrategi, Jakarta: 2014); (2) Mahasiswa di Pusaran Fundamentalisme Islam Kampus: Studi Kasus di Universitas Indonesia (Maarif Institute, Jakarta: 2014); (3) Radikalisme Islam dan Pergerakannya di Media Sosial (Jurnal Afkaruna, UMY: 2015); (4) Reproduksi Salafi: Dari Kesunyian Apolitis Menuju Jihadis (Maarif Institute, dalam proses). Nafi’ memiliki pengalaman yang panjang di bidang jurnalistik, di antaranya pernah bekerja di: (1) MATAN (PW Muhammadiyah Jawa Timur, Surabaya: 2009-2010); (2) Rakyat Merdeka (Jawa Pos Grup, Jakarta, 2010-2012); (3) Koran SINDO (MNC Grup, Jakarta: 2011-2015); (4) MONDAY Magz (Jakarta, Okt 2015 – Agt 2016). Beberapa artikelnya tersebar di sejumlah harian, seperti di Radar Surabaya, Malang Post, Koran SINDO, Radar Banten, dan GeoTimes.

Leave a Comment

Your email address will not be published.