By / Kolom

Mudah-mudahan Perjalanan yang Membahagiakan

Spread the love

Rabu, 15 November, di teras “Puskesmas” tidak terlalu jauh dari Bandara Abdurrahman Saleh, Malang, sambil menikmati kopi hitam yang saya pesan dari warung sebelah–saya ingin menyebutnya “kopi darurat” karena yang penting “ngopi–, saya memerhatikan seorang ibu yang tidak terlalu tua tetapi tidak bisa dibilang masih muda, yang memeragakan cara berwudlu dalam kondisi darurat seperti di pesawat terbang atau mungkin ketika berada di dalam Masjidil Haram, Mekah dan Masjid Nabawi, Madinah yang memang bukan sekedar ramai tetapi bahkan berdesakan. Saya bertanya dengan nada berbisik kepada isteri saya yang sedang menunggu mendapatkan nomor antrian suntik meningitis: “Kenapa tidak tayamum saja?”

Simulasi yang diperagakan oleh ibu yang masih terlihat cantik itu, di depan 2 orang yang juga perempuan tetapi dengan rentang usia yang tidak lagi bisa dibilang muda karena sudah melewati 60 tahun yang akan berangkat umrah pada Januari tahun depan, menurut saya kurang memerhatikan prinsip kemudahan dalam beragama. Sejatinya tayamum sudah memadai. Tetapi mengapa harus berwudlu dengan cara menuangkan air dalam kemasan seukuran seperempat genggaman tangan, lalu diusap-usapkan di antara kedua telapak tangan sebelum diusapkan ke wajah, kedua tangan, rambut, dan telinga. Untuk kedua kalinya ibu tadi menuangkan air dengan ukuran yang sama yang selanjutnya digunakan mengusap kedua kakinya. Terlihat tiga orang yang memerhatikan simulasi wudlu manggut-manggut pertanda paham.

Saya membayangkan tingkat keruwetan berwudlu dengan cara demikian kala dalam pesawat. “Itu perasaan saja yah,” isteri saya coba memberikan penjelasan. “Kok perasaan?” tanya saya. “Ya merasa kurang mantap kalau tidak pakai air.” Saya segera memahami apa yang dimaksud dengan “soal rasa” dalam praktik beragama seperti dikatakan isteri saya itu.

Tetapi, sudahlah, saya tidak ingin memersoalkan terlalu jauh dan dalam. Kalau coba diberi justifikasi, simulasi itu bisa dijadikan contoh ikhtilaf, karena itu seharusnya tidak perlu menimbulkan iftiraq (pertentangan) seperti ditulis oleh Umar Shihab dalam bukunya, Beda Mazhab Satu Islam.

Toh di luar ikhtilaf tata cara berwudlu dalam kondisi tidak normal itu, kita yang pernah haji, umrah, dan bepergian ke luar negeri, akan mendapati beragam ikhtilaf lainnya. Kita jangan kaget kalau pada lafadz adzan yang dikumandangkan oleh penganut Syi’ah berbeda dengan Sunni, termasuk tata cara shalatnya sebagaimana yang pernah saya saksikan saat berkunjung ke Iran beberapa tahun silam. Di Turki, kita akan terbiasa menyaksikan anjing “bersiliweran” di halaman masjid, suatu panorama yang tidak akan pernah kita saksikan di tanah air.

Fakta ikhtilaf semacam itulah yang sempat menggelisahkan Rasulullah karena khawatir mengarah pada iftiraq dengan akibat yang lebih parah. Di Madinah ada masjid bernama al Ijabah yang terletak di kawasan Sari’ ad Sittin sekitar 385 meter di utara Baqi’ dan berada di jalan raya As-Sittin dan hanya sekitar setengah km dari Masjid Nabawi.

Saya pernah tinggal lumayan lama di dekat Masjid al Ijabah sewaktu menjadi Panitia Haji Nonkloter pada 2001. Sayangnya tidak banyak jamaah dari Indonesia yang berkunjung ke masjid ini. Padahal masjid ini memiliki nilai sejarah. Ihwal penamaan masjid ini terkait dengan tiga permohonan Rasulullah kepada Allah. Dua permohonan dikabulkan. Sedangkan yang ketiga sebaliknya.

Dua permintaan yang dikabulkan adalah, Madinah terhindar dari paceklik dan banjir. “Aku mengharap agar permusuhan umatku tidak terjadi antar sesama mereka, tetapi permintaanku tidak dikabulkan,” kata suatu hadist temtang permohonan ketiga Rasulullah yang belum terlabulkan.

Kedua nenek yang memerhatikan simulasi berwudlu sambil menunggu antrian suntik meningitis itu, mungkin akan mempraktikkannya begitu saja. Kedua nenek juga tidak akan peduli dengan puspa ragam bacaan dan gerakan shalat yang akan dijumpainya pada saat umrah nanti.

Sebaiknya memang jangan disibukkan dengan persoalan ikhtilaf apalagi kala melaksanakan ibadah di Mekah dan Madinah, tempat perjumpaan jutaan manusia yang tidak saja berasal dari berbagai macam negara, tetapi juga mazhab fiqih.

“Berapa nek biayah umrahnya?” Tanya saya kepada salah satu nenek itu. “Saya tidak tahu mas. Semua yang ngurus anak saya. Saya tinggal jalani saja.”

Mendengar jawaban tersebut, saya ikut merasakan kebahagiaan dari dua arah sekaligus: dari nenek dan anak yang memberangkatkannya. Tiba-tiba memori saya bertaut dengan masa lalu ketika ibu saya wafat kala saya masih usia dini. Mungkinkah saya bisa memberangkatkan ibu saya umrah atau haji sebagaimana dilakukan oleh anak dari perempuan yang saya panggil nenek itu? Sempat terbersit pertanyaan semacam itu dalam diri saya.

Buku yang baru saja saya beli, Filsafat Moral: Kesusilaan dalam Teori dan Praktik (2017), antara lain membicarakan kebahagiaan. Saya berfikir keras memahami definisi kebahagiaan yang dirumuskan oleh penulis buku tersebut, W. Poespoprodjo. Kebahagiaan, tulisnya, keinginan yang terpuaskan karena disadari memiliki sesuatu yang baik. Saya coba memahami definisi itu sebagai berikut: pertama, kita merasakan kebahagiaan jika kita puas dengan keinginan yang bisa diwujudkan. Tetapi, ini yang kedua, keinginan yang bisa diwujudkan mengandung kebaikan.

Kedua nenek itu merasakan kebahagiaan. Pun demikian dengan anak yang memberangkatkannya.

Umrah, terkadang disebut “haji kecil”, adalah keinginan sebagian umat Islam. Pelaku umrah, kalau saya meminjam kata dari I. Suharyo yang mengantarkan buku, Pilgrim (2017)yang ditulis Trias Kuncahyono, sejatinya adalah penziarah yang berbeda dengan wisatawan. Wisatawan lebih menaruh perhatian pada hal-hal yang indah secara superfisial. Kepada seorang dokter senior di Fakultas Kedokteran UMM saya katakan, semakin usia bertambah terutama yang mencapai 60 tahun, cenderung “melangit”. Sedangkan usia di bawahnya, cenderung “membumi”. “Melangit” yang saya maksudkan adalah, orientasi ukhrawinya lebih menguat. Sebaliknya bagi yang masih muda, orientasi keduniawiannya yang lebih menguat.

Kedua nenek itu mungkin tidak begitu memerdulikan tampilan Mekah dan Madinah yang kini mengalami perubahan begitu drastis. Buku bertajuk, Ketika Mekah Menjadi Seperti Las Vegas: Agama, Politik dan Ideologi, yang diterbitkan Gramedia pada 2014, menggambarkan perubahan yang dimaksud, terutama Mekah.

Alih-alih keindahan superfisial yang memesona, sebagai penziarah kedua nenek itu akan memaknai sebagai perjalanan untuk lebih mendekatkan pada Allah, perjalanan penuh kepasrahan.

Dengan suara bergetar, abah saya berucap begini: “Kalau nanti di sana saya sampai semua, saya ikhlas.” Saya tidak bisa membendung air mata saya. Saya paham apa yang dimaksud dengan pernyataan “sampai semua” itu. Haji untuk pertama kalinya mungkin pada 1974 atau 1975 kala masih berusia muda, Insya Allah pada 20 Desember, bulan depan, akan menapaktilasi perjalanan ke tanah suci setelah vakum selama 43 tahun dan dengan usia melampaui 70 tahun, siapa yang tidak bergetar mendengar ungkapan “sampai semua” itu.

Malang, 20 November 2017, jelang dini hari di perpustakaan rumah saya.

Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si

Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si

Direktur Eksekutif at Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM)
SYAMSUL ARIFIN adalah Profesor Sosiologi Agama di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Saat ini, dia menjabat sebagai Wakil Rektor I UMM, sekaligus Direktur Eksekutif Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Program Pascasarjana UMM. Minat akademiknya terkosentrasi pada kajian dan riset mengenai pendidikan, radikalisme, multikulturalisme dan hak asasi manusia. Beberapa karyanya yang telah dipublikasikan, di antaranya adalah: (1) Ideologi dan Praksis Gerakan Sosial Kaum Fundamental: Pengalaman Hizbut Tahrir Indonesia (UMM Press, 2005); (2) Studi-studi Agama: Perspektif Sosiologi dan Isu-isu Kontemporer (UMM Press, 2009); Studi Islam Kontemporer: Arus Radikalisasi dan Multikulturalisme di Indonesia (Intrans Malang, 2015); Attitudes to Human Rights and Freedom of Religion or Belief in Indonesia, Voices of Islamic Religious Leaders in East Java (Kanisius, Yogyakarta, 2010). Syamsul juga terlibat dalam sejumlah penulisan buku yang berbasiskan riset, di antaranya: (1) Indonesian Discourse on Human Rights and Freedom of Religion or Belief: Muslim Perspective (BUY Law Review, 2012); (2) The Construction of Islamic Education of Islamic Education in Hizb Perspective (Education, Vol 10, Number 3, September-December 2012); (3) Stem the Tide of Radicalization in Indonesia (Islamica: Islamic Studies, Vol. 8 No. 2 (2014).
Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si

Latest posts by Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si (see all)


Spread the love

Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si

SYAMSUL ARIFIN adalah Profesor Sosiologi Agama di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Saat ini, dia menjabat sebagai Wakil Rektor I UMM, sekaligus Direktur Eksekutif Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Program Pascasarjana UMM. Minat akademiknya terkosentrasi pada kajian dan riset mengenai pendidikan, radikalisme, multikulturalisme dan hak asasi manusia. Beberapa karyanya yang telah dipublikasikan, di antaranya adalah: (1) Ideologi dan Praksis Gerakan Sosial Kaum Fundamental: Pengalaman Hizbut Tahrir Indonesia (UMM Press, 2005); (2) Studi-studi Agama: Perspektif Sosiologi dan Isu-isu Kontemporer (UMM Press, 2009); Studi Islam Kontemporer: Arus Radikalisasi dan Multikulturalisme di Indonesia (Intrans Malang, 2015); Attitudes to Human Rights and Freedom of Religion or Belief in Indonesia, Voices of Islamic Religious Leaders in East Java (Kanisius, Yogyakarta, 2010). Syamsul juga terlibat dalam sejumlah penulisan buku yang berbasiskan riset, di antaranya: (1) Indonesian Discourse on Human Rights and Freedom of Religion or Belief: Muslim Perspective (BUY Law Review, 2012); (2) The Construction of Islamic Education of Islamic Education in Hizb Perspective (Education, Vol 10, Number 3, September-December 2012); (3) Stem the Tide of Radicalization in Indonesia (Islamica: Islamic Studies, Vol. 8 No. 2 (2014).

Leave a Comment

Your email address will not be published.