By / Kolom

Muslim vs Mukmin

Spread the love

Seringkali terdapat beberapa kebingungan mengenai istilah ‘Muslim’ dan ‘Mukmin’ (orang-orang yang beriman). ‘Muslim’ adalah suatu istilah bagi siapapun yang tunduk atau berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mau tak mau istilah demikian berlaku bagi mereka yang punya atau tidak punya keyakinan terhadap kebenaran Al-Quran maupun utusan-utusan-Nya.

Dalam konteks Al-Quran dan keulamaan Nabi-nabi, seorang ‘Mukmin’ adalah seseorang yang ‘percaya’ pada kebenaran Al-Quran dan utusan-Nya (yaitu Nabi Muhammad SAW) yang ditunjuk Allah SWT untuk menyampaikan kitab suci terakhir pada umat Manusia. Oleh karena itu, seorang Mukmin percaya pada Allah SWT, semua Kitab suci-Nya, dan para utusan-Nya.

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman (Bhs Arab: mu’minuna). Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. QS Al-Baqarah (2) :285

Dua istilah ‘Muslim’ dan ‘Mukmin’ telah digunakan secara terpisah dalam teks Al-Quran. Sayangnya terjemahan bahasa Inggris dari ‘orang-orang yang beriman’ kurang dipahami sementara istilah ‘Mukmin’ Al-Quran lebih spesifik maknanya.

Misalnya, seseorang bisa jadi merupakan Muslim namun belum tentu seorang ‘Mukmin’ (orang beriman), karena keyakinannya belum merasuk di hati. Terdapat beberapa kemiripan antara ‘kepatuhan’ dengan praktik dan tujuan namun ‘Iman’ sejati (keyakinan yang mendalam) bisa jadi masih sulit dilakukan. Contohnya bisa diberikan dalam ayat berikut:

قَالَتِ ٱلأَعْرَابُ آمَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُواْ وَلَـٰكِن قُولُوۤاْ أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ ٱلإِيمَانُ فِى قُلُوبِكُمْ وَإِن تُطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ لاَ يَلِتْكُمْ مِّنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئاً إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk kedalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. QS Al-Ĥujurāt (49) :14.

Oleh karena itu, menjadi seorang Muslim pertama-tama (tunduk dan berserah diri pada Tuhan) adalah suatu prasyarat untuk mendapatkan keyakinan. Hanya saat seseorang telah berserah diri pada Allah SWT, barulah ‘keyakinan’ (Iman) bisa sepenuhnya merasuk ke hati.

Contoh lain adalah kutipan terkait Nabi Musa AS yang menyatakan sebagai yang pertama diantara kaumnya yang beriman di saat keyakinan sejati merasuki hatinya.

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat (Bahasa Arab: tub’tu) kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Bahasa Arab: Mumineen)  Q.S. Al-‘A`raf (7) :143

Perhatikan bahwa Nabi Musa AS seketika meminta tobat (menyesal) yang terkait permintaannya yang sebelumnya agar bisa melihat Tuhan untuk menguatkan hatinya sendiri.

Serupa dengan hal ini terdapat resonansi dengan kisah yang melibatkan Nabi Ibrahim AS yang juga meminta diberikan suatu tanda untuk menguatkan hatinya.

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” (Bahasa Arab: awalam tu’min’) Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku). Q.S. Al-Baqarah (2) :260 (sebagian)

Masih banyak terdapat contoh-contoh lain dimuat di Quran mengenai orang-orang yang disebut sebagai ‘Muslim’ namun belum pernah bisa menemui kitab suci terakhir (Al-Quran) atau Nabi Muhammad SAW. Beberapa contoh:

  • Nabi Nuh AS tidak meminta imbalan dari umatnya, dia menyatakan bahwasanya ia termasuk golongan Muslimin Q.S. Yunus(10) :72
  • Surat Nabi Sulaiman AS terhadap ratu Saba, dan atas nama Allah SWT memintanya meninggalkan syirik dan bersama rakyatnya berserah diri menjadi Muslimin Q.S. An-Naml(27) :31
  • Nabi Sulaiman AS memandang dirinya sebagai salah satu dari golongan ‘Muslimin’ Q.S. An-Naml(27) :42
  • Semua umat kecuali umat Nabi Luh AS tunduk pada Allah SWT (Muslimin)Q.S. Adh-Dhariyat(51) :36
  • Nabi Ibrahim AS adalah salah satu yang tunduk pada Tuhannya, Allah SWT (Musliman) Q.S. ‘Ali `Imran (3): 67
  • Para pengikut Nabi Isa menyatakan bahwa mereka tunduk pada Allah SWT (Muslimun) Q.S. ‘Ali `Imran(3) :52
  • Nabi Yusuf AS berdoa pada Allah SWT agar mati sebagai seorang ‘Musliman’ Q.S.Yusuf(12) :101
  • Anak-anak Nabi Yaqub AS saat dihadapkan pada maut menyatakan mereka berserah diri pada Allah SWT (Muslimun)Q.S. Al-Baqarah(2) :133
  • Bahkan para ahli nujum Firaun menyatakan diri sebagai Muslim saat mereka melihat tanda-tanda kenabian Nabi Musa AS Q.S.Al-‘A`raf(7) : 126

Tak ada satupun Nabi-nabi di atas yang mengenal Nabi Muhammad saw, nabi terakhir yang diutus oleh Tuhan, secara langsung atau mengetahui kitab suci terakhir (Al-Quran). Meskipun demikian mereka semua tunduk serta berserah diri pada Allah SWT dan menjadi ‘Muslim’.

Oleh karena itu, definisi Al-Quran mengenai seorang Muslim tidak secara ekslusif dibatasi hanya pada orang yang percaya pada Nabi Muhammad SAW.

Memang pada masa kenabian Nabi Muhammad SAW, terdapat beberapa Ahli Kitab yang memang percaya pada kebenaran sang utusan Tuhan dan ajarannya. Orang-orang ini merupakan orang mukmin namun masih mempertahankan gelar mereka sebagai ‘Ahli Kitab’. Mereka masih mengikuti firman-firman-Nya, namun menerima kebenaran utusan terakhir Tuhan dan menjadi saksi atas kebenaran. Keyakinan sejati (Iman) karena itu telah merasuk hati mereka.

وَإِذَا سَمِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَى ٱلرَّسُولِ تَرَىۤ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُواْ مِنَ ٱلْحَقِّ يَقُولُونَ رَبَّنَآ آمَنَّا فَٱكْتُبْنَا مَعَ ٱلشَّاهِدِينَ

Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui ; seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, (Bahasa Arab: amanna) maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi . (Bahasa Arab: Shahadin) Q.S. Al-Ma’idah (5) : 83

Dan sesungguhnya diantara ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya. Q.S. ‘Ali `Imran (3): 199

Orang-orang yang beriman pada kitab suci-kitab suci sebelumnya sudah merupakan Muslim sebagaimana bisa dilihat dalam ayat berikut: Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Qur’an, mereka beriman (pula) dengan itu. Dan apabila dibacakan (Al Qur’an itu) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Qur’an itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelumnya (min-qablihi) adalah orang-orang yang membenarkan(nya). (Bahasa Arab: Muslimina) Q.S.Al-Qasas (28) :52-53

Kesimpulan
Muslim adalah mereka yang berserah diri pada Tuhan dan bisa termasuk para pengikut Nabi dan Kitab suci-kitab suci sebelumnya (termasuk Yahudi dan Kristen). Dalam konteks diwahyukannya Al-Quran, seorang ‘Mukmin’ adalah seorang Muslim yang juga percaya pada kebenaran pesan terakhir yang disampaikan oleh Nabi terakhir, Nabi Muhammad SAW. Istilah ‘Mukmin’ secara spesifik terkait dengan keyakinan sejati yang merasuk dalam di hati umat manusia.

REFERENSI:
1) Quran.com
2) Joseph A Islam: quransmessage


Spread the love

Leave a Comment

Your email address will not be published.