By / Artikel Kajian Modern ID

Musyrikin, Tantangan Bagi Kaum Mukmin, Bukan Bagi Para Penyembah Berhala

Spread the love

Artikel ini merupakan ringkasan (review) dari buku karya G.R. Hawting yang berjudul The Idea of Idolatry and the Emergence of Islam: From Polemic to History (Cambridge University Press, 2006). Melalui buku ini, Hawting mendukung pandangan yang menyebut bahwa kebangkitan Islam memiliki “hutang mendalam” terhadap perselisihan di antara kaum mukmin dengan para penyembah berhala (atau orang-orang musyrik sebagaimana yang dikatakan di dalam al-Qur’an) dan penganut politeis. Dia menyetujui, bahwa kaum musyrikin yang dikecam di dalam al-Qur’an sesungguhnya adalah kaum mukmin, tetapi di kemudian hari ibadahnya menyimpang dari ajaran Tauhid sehingga digambarkan secara polemik sebagai pelaku perbuatan syirik.

Karya ini menaruh perhatian luas terhadap kondisi keagamaan ketika Islam muncul di Tanah Arab. Secara lebih spesifik, buku ini mengajukan sebuah pertanyaan mendasar: Apa pemahaman yang timbul dari teks al-Qur’an mengenai kritik terhadap penganut banyak tuhan (politeisme) dan pemuja berhala. Selain itu, karya ini juga mempertanyakan pandangan awam al-Qur’an tentang berbagai kecaman terhadap para penyembah berhala atau kaum musyrikin tersebut.

Ringkasan ini ditujukan untuk menelaah ulang sejumlah ayat al-Qur’an yang dapat dikatakan penuh polemik tentang penilaiannya terhadap orang-orang Arab yang menyembah berhala dan mengimani banyak tuhan, sehingga untuk menjelaskannya kita membutuhkan proses pendiskusian yang mendalam mengenai mengapa dan bagaimana penilaian tersebut bisa sedemikian tersebut diarahkan. Dengan mempelajari hal ini, kita akan bisa memandang asal-muasal kemunculan Islam dari beberapa perspektif.

Secara historis, tradisi Muslim mengisahkan kepada kita bahwa Islam adalah agama Tauhid (monoteisme). Islam muncul di Arab Barat Tengah (Hijaz) pada awal abad ke-7 Masehi sebagai hasil dari rangkaian wahyu yang diturunkan Allah SWT kepada Muhammad SAW.

Seperti jamak diketahui, kondisi bangsa Arab ketika Muhammad hidup dan berdakwah, secara umum dikenal sebagai zaman Jahiliyah. “Jahiliyah” bisa diartikan sebagai zaman atau kondisi dimana kebodohan masyarakatnya merajalela, meski akar kata yang berhubungan dengan itu terkadang memiliki bermacam pengertian yang melampaui “kebodohan” itu sendiri. Kata ini juga kadang digunakan oleh umat Muslim yang hidup pada era modern dengan pengertian lebih luas yang mengacu pada budaya yang dianggap tidak islami. Akan tetapi, pada konteks buku ini, kata ini didasarkan pada kepada masyarakat Arab di Jazirah Arab Tengah dan Barat pada dua atau tiga abad sebelum datangnya Islam.

SELENGKAPNYA: 6-musyrikin-tantangan-bagi-kaum-mukmin


Spread the love

Leave a Comment

Your email address will not be published.