By / Kolom

Perjalanan Saya dari Barat ke Muhammadiyah

Spread the love

Saat saya melangkah ke panggung untuk menerima Gelar S2 dalam Pendidikan Agama Islam dari UMM, saya yakin bahwa ada banyak rasa ingin tahu dari para hadirin yang ada di “UMM DOME” tersebut. Apa latar belakangnya, bagaimana dia sampai di sini, dan yang paling penting; apa motivasinya untuk mempelajari Islam? Nah, semoga testimoni ini akan membantu menjawab rasa ingin tahu mereka!

Nama saya Robert Pope, lahir pada tanggal 4 Maret 1967 di Australia Selatan. Kakek dan ayah saya menjadi pelopor penemuan hal baru yang digunakan dalam berbagai industri, serta dalam kegiatan kemanusiaan dan pertanian di padang pasir bersama komunitas Aborigin Australia. Saya selalu merasa menjadi orang yang tidak suka dibatasi oleh rutinitas, tetapi lebih menjadi orang yang inovatif, perintis dan suka mengeksplorasi hal-hal baru di cakrawala ini. Mungkin itu juga yang menyebabkan saya akhirnya menjadi satu-satunya “bule” di DOME Muhammadiyah Malang! Mungkin juga keinginan untuk berinovasi lah yang mendorong saya untuk meninggalkan hambatan pekerjaan kantor dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore di Australia, kemudian memilih  datang dan menjelajahi Bangsa Indonesia yang besar ini.

Mengejar kesempatan untuk dalam berkontribusi dalam bidang pendidikan di Indonesia, pola pikir saya berubah dengan cepat dalam beberapa hal. Pada tahun 1990’an, adanya sejumlah peristiwa teror yang terjadi di seluruh dunia, menyebabkan adanya ketakutan dan ketegangan yang meningkat mengenai Islam di Negara Barat. Namun, ini sama sekali tidak tercermin dalam realitas kehidupan yang kami alami di Indonesia. Teman-teman dekat anak-anak saya berasal dari umat Muslim; kami tinggal di sebuah komunitas Muslim yang damai. Jelas sekali bahwa pandangan kita mengenai suatu budaya agama akan menyimpang dari aslinya jika kita melihatnya dari luar. Ini adalah awal dari sebuah perjalanan saya untuk lebih memahami esensi Islam dan sejarahnya, dan sumber untuk lebih memahami Islam adalah dari Muslim itu sendiri, bukan dari non-Muslim. Namun tidak sesederhana itu, dalam perjalanan ini saya melihat asumsi kita tentang asal-usul keimanan kita, yang mempengaruhi cara kita dalam menjalani hidup, seringkali sangat berbeda dengan apa yang sebenarnya terjadi. Banyak orang memandang agama-agama Ibrahim sebagai agama terpisah, dan mengkategorikannya dengan rapi. Namun yang saya lihat tidak selalu seperti itu. Agama-agama Ibrahim banyak sekali saling terhubung, dan proses waktulah, terutama melalui konflik politik, yang menciptakan dinding pemisah.

Seiring waktu, perjalanan ini berkembang menjadi penyampai informasi tentang Islam ke Barat, yang merupakan salah satu alasan saya untuk membentuk Yayasan di Australia, yang dinamai Equal Access International, dan mengembangkan kerjasama dengan organisasi berpikiran serupa di Indonesia dan di seluruh dunia. Equal Access International bangga bisa menjadi mitra penting dari Pusat Studi Agama dan multikulturalisme, PUSAM, (www.pusam.umm.ac.id), serta organisasi lainnya seperti www.itsme.id.

Bagaimanapun sebagai manusia kita memiliki motivasi untuk membuat semua orang agar sama seperti kita, berpikir dan bertindak dengan cara yang sama. Terkadang yang digambarkan sebagai orang yang taat, baik Muslim maupun Kristen, pada kenyataannya adalah orang yang kaku dan berpandangan sempit tentang iman mereka: berpakaian, bertindak serta menyembah dengan cara tertentu yang sempit, dan menganggap rendah semua orang di luar “klub” eksklusif  mereka. Namun sesuatu yang saya pegang adalah bahwa dunia tidak pernah diciptakan untuk menjadi seragam; tetapi tumbuh dengan “Bhinneka Tunggal Ika” atau Persatuan dalam Keberagaman, yang merupakan aset yang dimiliki Indonesia! Al-Qur’an dengan jelas menyatakan, bahwa keragaman adalah karunia Tuhan dan tidak perlu diganti dengan keseragaman. Sementara manusia berfokus pada praktik eksternal, Tuhan melihat isi hati kita, contohnya sikap kita terhadap orang lain.

Terkadang menjaga Persatuan dalam Keberagaman adalah sebuah tantangan, dengan banyaknya perbedaan budaya dan praktik, namun ini adalah tantangan yang bisa kita lalui. Tahun-tahun terakhir telah menjadi pengalaman pembelajaran, dan saya berharap untuk dapat  terus bersama-sama menjelajahi cakrawala baru. Wasalam. Robert

Robert Pope

Robert Pope

Direktur Equal Access International, Australia, sebuah organisasi yang bertujuan untuk memberikan pemahaman Islam yang lebih berimbang di negara-negara Barat, dan merupakan mitra dari Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM). Robert saat ini sedang menempuh studi S3 jurusan Pendidikan Islam di Universitas Muhammadiyah Malang. Dia telah menyelesaikan S2 jurusan Pendidikan Islam, dengan tesis berjudul"Mengalami kembali Islam Inklusif". Perhatian dan minatnya berfokus pada area Tren Modern dalam Studi Islam, serta asal-usul Islam dan keterkaitan awalnya dengan Agama Abrahamik lain. Terkait hal ini, Robert mengkoordinasikan sebuah seminar bagi Akademisi muda dengan judul "Tren Modern dalam Studi Islam."
Robert Pope

Spread the love

Robert Pope

Direktur Equal Access International, Australia, sebuah organisasi yang bertujuan untuk memberikan pemahaman Islam yang lebih berimbang di negara-negara Barat, dan merupakan mitra dari Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM). Robert saat ini sedang menempuh studi S3 jurusan Pendidikan Islam di Universitas Muhammadiyah Malang. Dia telah menyelesaikan S2 jurusan Pendidikan Islam, dengan tesis berjudul “Mengalami kembali Islam Inklusif”. Perhatian dan minatnya berfokus pada area Tren Modern dalam Studi Islam, serta asal-usul Islam dan keterkaitan awalnya dengan Agama Abrahamik lain. Terkait hal ini, Robert mengkoordinasikan sebuah seminar bagi Akademisi muda dengan judul “Tren Modern dalam Studi Islam.”

Leave a Comment

Your email address will not be published.