By / Kolom

Persoalan Kekafiran Ditentukan Allah, Bukan Oleh Manusia

Spread the love

Al-Qur’an berulangkali membuktikan fakta bahwasanya kalau Allah berkehendak, setiap orang bisa dibimbing-Nya. Namun Allah memberikan tiap manusia kebebasan untuk memilih mana yang benar dan salah dengan semua argumen dan bukti. Ia telah menunjukkan hal ini melalui (meski tidak terbatas pada) pesan-pesan dan kitab-kitab suci-Nya.

Allah telah memberikan kita kemampuan untuk mengambil keputusan dan menganugerahi kita dengan kemampuan untuk merenungkan dan membedakan yang benar dari yang salah. Apakah seseorang beriman atau tidak beriman, tetap tidak ada konsep iman yang dipaksa dalam Al-Qur’an dan hal tersebut tetaplah persoalan pilihan individu tersebut.

Harap dicatat bahwasanya ayat yang diambil dari Surah At-Taubah seringkali digunakan lepas dari konteksnya untuk memberikan landasan ‘iman yang dipaksa’.

Perintah – perintah kepada Nabi

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَـآمَنَ مَن فِى ٱلأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعاً أَفَأَنتَ تُكْرِهُ ٱلنَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُواْ مُؤْمِنِينَ

“Dan jika Tuhanmu menghendaki tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya.Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman? ” (Q.S. Yunus [10]:99)

قُلْ فَلِلَّهِ ٱلْحُجَّةُ ٱلْبَالِغَةُ فَلَوْ شَآءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Alasan yang kuat hanya pada Allah. Maka kalau Dia menghendaki, niscaya kamu semua mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-An’aam [6]:149)

لاَ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِٱلطَّاغُوتِ وَيْؤْمِن بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لاَ ٱنفِصَامَ لَهَا وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah [2]:256)

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تُؤْمِنَ إِلاَّ بِإِذْنِ ٱللَّهِ وَيَجْعَلُ ٱلرِّجْسَ عَلَى ٱلَّذِينَ لاَ يَعْقِلُونَ

“Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah dan Allah menempakan azab (bahasa Arab: Rijisa) kepada orang-orang yang tidak menggunakan akal.“ (Q.S. Yunus [10]: 100)

Nabi Sangat Dianjurkan Agar Tidak Bersedih

وَإِن كَانَ كَبُرَ عَلَيْكَ إِعْرَاضُهُمْ فَإِنِ ٱسْتَطَعْتَ أَن تَبْتَغِىَ نَفَقاً فِى ٱلأَرْضِ أَوْ سُلَّماً فِى ٱلسَّمَآءِ فَتَأْتِيَهُمْ بِآيَةٍ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى ٱلْهُدَىٰ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْجَاهِلِينَ

“Dan jika keberpalingan mereka terasa berat bagimu (Muhammad), maka sekiranya engkau dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit lalu engkau dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, (maka buatlah). Dan sekiranya Allah menghendaki, tentu Dia jadikan mereka semua mengikuti petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang bodoh (bahasa Arab: Jahilin).” (Q.S. Al-An’aam [6]:35]

Persoalan Kekafiran Akhirnya Akan Ditentukan Pada Penghakiman Oleh Allah SWT

وَقُلِ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَن شَآءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَآءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَاراً أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِن يَسْتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٍ كَٱلْمُهْلِ يَشْوِى ٱلْوجُوهَ بِئْسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتْ مُرْتَفَقاً
“Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa menghendaki, hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki biarlah dia tidak beriman.’ Sesunguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta minum niscaya mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah (itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (Q.S. Al-Kahfi [18]:29)

إِنَّ ٱلَّذِينَ آمَنُواْ ثُمَّ كَفَرُواْ ثُمَّ آمَنُواْ ثُمَّ كَفَرُواْ ثُمَّ ٱزْدَادُواْ كُفْراً لَّمْ يَكُنِ ٱللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلاَ لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلاً

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman lalu kafir, kemudian beriman (lagi), kemudian kafir lagi, lalu bertambah kekafirannya, maka Allah tidak akan mengampuni mereka, dan tidak (pula) menunjukkan kepada mereka (yang lurus).” (Q.S. An-Nisaa [4]: 137)

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa antara keimanan dan kekafiran bisa menjadi suatu pengalaman dalam lingkaran siklus dan terjadi berulangkali. (Tidak ada pencantuman mengenai penetapan hukuman terhadap kemurtadan)

كَيْفَ يَهْدِى ٱللَّهُ قَوْماً كَفَرُواْ بَعْدَ إِيمَانِهِمْ وَشَهِدُوۤاْ أَنَّ ٱلرَّسُولَ حَقٌّ وَجَآءَهُمُ ٱلْبَيِّنَاتُ وَٱللَّهُ لاَ يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّالِمِينَ
أُوْلَـٰئِكَ جَزَآؤُهُمْ أَنَّ عَلَيْهِمْ لَعْنَةَ ٱللَّهِ وَٱلْمَلاۤئِكَةِ وَٱلنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu balasannya ialah bahwa laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya.” (Q.S. Ali-Imran [3]: 86 – 87)

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بَعْدَ إِيمَانِهِمْ ثُمَّ ٱزْدَادُواْ كُفْراً لَّنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْ وَأُوْلَـٰئِكَ هُمُ ٱلضَّآلُّونَ

“Namun orang-orang kafir setelah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima tobatnya, dan mereka itulah orang-orang yang sesat” (Q.S.Ali-Imran [3]: 90)

Harap lihat juga Q.S. Al-Baqarah [2]:8-10, Q.S. Al-Maa’idah [5]:54, dan Q.S. Ibrahim [16]:106.

PESAN SURAH AL-KAFIRUN (BAB MENGENAI ORANG-ORANG KAFIR)

قُلْ يٰأَيُّهَا ٱلْكَافِرُون لاَ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَلاَ أَنتُمْ عَابِدُونَ مَآ أَعْبُدُ وَلاَ أَنَآ عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ وَلاَ أَنتُمْ عَابِدُونَ مَآ أَعْبُدُ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ

“Katakanlah: ‘Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, untukmu agamamu, dan untukku agamaku. ” (Q.S. Al-Kafiruun [109]:1-6)

 

KESIMPULAN
Pesan Al-Qur’an jelas. Iman tidak bisa dipaksakan dan juga tidak ada perintah sama sekali untuk memaksakan iman. Iman atau kurangnya iman seseorang adalah urusan individu dengan Tuhannya. Ini sepenuhnya merupakan persoalan kemauan dan pilihan.

 

 

REFERENSI:
1) Quran.com
2) Joseph A Islam: quransmessage


Spread the love

Leave a Comment

Your email address will not be published.