By / Media

PUSAM Selenggarakan Seminar dan Workshop Deradikalisasi

Spread the love

Malang, 29 Juni 2012. Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI bekerja sama dengan Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang menyelenggarakan Seminar dan Workshop Penulisan Modul Pengembangan Studi Keislaman Berbasis Living Values Education (LVE) sebagai Strategi Deradikalisasi Paham Keagamaan Islam Transnasional Radikal.

Acara ini diikuti oleh 50 aktivitis organisasi keislaman ekstra kampus yang berasal dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan dilaksanakan dari 29 Juni-1 Juli 2012. Menurut Ketua PUSAM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si, workshop dan penulisan modul dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap perkembangan Islam transnasional radikal yang merambah kampus dan memengaruhi cara pandang keagamaan mahasiswa.

Untuk mengatasi dampak perkembangan ini, lanjut, Syamsul Arifin, diperlukan suatu strategi. Salah satu strategi yang perlu dikembangkan menurut guru besar Sosiologi Agama ini adalah dengan mengembangkan studi keagamaan yang berbasis LVE. Ketika ditanya mengenai relevansi LVE dengan studi keislaman, Syamsul Arifin menjelaskan, dalam LVE terhadap 12 nilai kebajikan; co-operation, freedom, happiness, honesty, humility, love, peace, respect, responsibility, simplicity, tolerance and unity. Kedua belas nilai ini, lanjut Syamsul Arifin, perlu dipahami dan diinternalisasikan kepada para aktivis organisasi keislaman ekstra kampus melalui studi keislaman.

Gagasan PUSAM mendapatkan dukungan dari Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama. Dalam sambutan pada acara pembukaan, Kepala Puslitbang Kehidupan Keagamaan, Prof.Dr.H.Abdurrahman Mas’ud, M.A, menyatakan, dalam menghadapi arus radikalisasi dari kelompok Islam transnasional diperlukan suatu strategi deradikalisasi.

Sejauh ini  Indonesia telah memiliki pengalaman dalam melakukan deradikalisasi terhadap pengikut Islam radikal. Puslitbang Kehidupan Keagamaan pernah bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dalam melakukan program deradikalisasi terhadap para pelaku tindakan radikal dan terorisme yang dipenjara. Tetapi deradikalisasi tersebut terhadap orang-orang yang pernah terlibat dalam jaringan kelompok radikal.

Sementara gagasan yang coba dikembangkan oleh PUSAM, menurut Prof. Abdurrahman Mas’ud memiliki keunikan karena yang dijadikan sasaran deradikalisasi adalah mahasiswa. Gagasan ini perlu diapresiasi dan didukung sehingga ideologi, paham, dan gerakan Islam transnasional radikal dapat dibatasi perkembangannya. Prof. Abdurrahman Mas’ud juga menyambut baik terhadap penulisan modul yang disiapkan oleh tim PUSAM. Prof. Abdurrahman Ma’ud jberharap, modul yang disiapkan oleh tim PUSAM kian menambah khazanah kepustakaan Islam yang yang mencounter buku-buku radikal. Prof. Abdurrahman Mas’ud menambahkan, Badan Litbang dan Diklat Kemeneterian Agama telah lama memiliki program deradikalisasi. Program ini, menurut Prof. Abdurrahman Mas’ud, perlu terus dikembangkan karena dampak dari gerakan radikal banyak merugikan masyarakat.

Pendekatan deradikalisasi yang digunakan oleh Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama adalah pendekatan budaya., Jelas beliau: Intinya kami telah melakukan pengembangan budaya dan peningkatan budaya damai dalam pesantren. Maka kami mengadakan work shop untuk pengembangan budaya damai di pesantren yang sudah kita lakukan sejah tahun 2007 sampai sekarang. Kami juga mempunyai program yang dinamakan Peace Making, building, keeping yang dilakukan sejak tahun 2009 sampai sekarang.

Latar belakang diadakannya kegiatan tersebut ada di modul. Dan kami sudah melakukan kegiatan ini di 12 Provinsi dan kita sudah mempunyai buku panduaannya. Namun tidak tersosialisasi dengan baik. Kegiatannya tidak hanya work shop tapi juga FGD yang dilanjutkan dengan PAR. Pesertanya adalah dari umur 20 sampai 30 puluh tahun yang berasal dari lintas agama. Tujuannya tentu banyak sekali salah satunya adalah supaya terbentuk kader-kader perdamaian diberbagai tempat di Indonesia Sekarag kami juga sudah mempunyai kader-kader perdamaian meskipun sebenarnya melebihi tugas kami yang tugas kamis sebenarnya hanya mencari model. Namun pada perjalanannya Litbang telah Melahirkan kader-kader perdamaian yang sebenarnya merupakan tugas dari Dirjen. Jumlah kader 264 kader pada tahun 2010 dan sekarang sudah lebih dari itu. Apa yang dilakukan di sini merupakan lanjutan peace making dan peace keeping yang kami lakukan tadi.

Sementara itu, Prof.Dr. Koeswinarno, peneliti Puslitbang Kehidupan Keagamaan yang hadir dalam acara juga mengapresiasi acara ini. Menurut guru besar antropologi ini, workhop diharapkan bisa menskontruksi Deradikalisasi. Keyakinan itu boleh-boleh saja yang penting tidak merusak. Ketika keyakinan dengan keyakinan berhadapan maka pasti akan ada pertentangan yang muncul, tegasnya. Sedangkan Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Latipun, M.Kes, juga menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap acara yang diselenggarakan oleh PUSAM. “Saya menyambut baik atas terselenggaranya kegiatan Workshop dan seminar Penulisan Modul Pengemangan Studi Ke-Islaman Berbasis Living Values Education (LVE). Apalagi seminar sejenis ini bukan yang pertama diselenggarakan  oleh Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) UMM, tentu dengan sasaran yang berbeda. Topik yang diselenggarakan kali ini lebih spesifik dan diharapkan hasilnya lebih konkrit”, kata Dr. Latipun, M.Kes.Lebih lanjut Dr. Latipun, M.Kes, mengatakan:

Kajian ini penting, karena beberapa hal. Pertama, sekarang ini gerakan ideology apapun termasuk radikalime itu berkembang tanpa dibatasi oleh batas-batas Negara. Teknologi informatika telah memberikan kemudahan bagi pengembangan ideology antar Negara. Kedua, pengembangan ideology sering kali diikuti oleh sikap radikalisme dan tindak kekerasan dalam masyarakat. Termasuk ideology demokrasi dan komunisme juga menelan korban yang sangat besar dalam masyarakat. Kita lihat, kasus perang di berbagai Negara (termasuk yang terjadi di Irak) merupakan contoh bagaimana perjuangan untuk membangun demokrasi telah menelan korban yang tidak sedikit. Demikian juga dengan penyebaran ideology komunisme diberbagai Negara juga memakan korban yang sangat banyak.

Kita mendambahan suatu masyarakat yang menjunjung tinggi peradaban kemanusiaan. Suatu kesadaran bahwa perjuangan suatu paham boleh dikembangkan tetapi tidak dengan cara-cara yang merusak nilai-nilai kemanusiaan. Peperangan dan kekerasan merupakan menifestasi dari peradaban primitive yang hingga sekarang ini belum juga dapat dihapuskan. Peradaban yang tinggi itu adalah peradaban yang mengembangkan kehidupan yang lebih manusiawi, toleran, dan saling menghargai. Ketiga, semua masyrakat mendambakan perdamaian.

Jangan sampai satu sama lain saling curiga dan merasa tidak aman. Dalam kehudupan social sekarang ini kondisi yang didambakan adalah kehidupan yang saling damai, toleran dan saling menghargai. Setidaknya ada tiga point yang harus terjadi dalam masyarakat yang damai, yaitu: masyarakat yang anti kekerasan dan permusuhan, penyelesaian masalah secara konstruktif dan membangun hubungan social secara baik. Jika ketiga aspek ini dapat diwujudkan dalam kehidupan social, perdamaian dalam masyarakat dapat diterjadi. Seminar dan workshop ini adalah penting untuk memberikan dasar bagi penyelenggaraan pendidikan Islam yang mengadah pada kehidupan social yang damai itu.

Namun demikian, harus disadari bahwa seminar dan worshop saja tidak cukup untuk menciptakan masyarakat yang damai terbebas dari tindakan radikalisme dan kekerasan dalam masyarakat. Jadi masih juga diperlukan usaha-usaha lain termasuk membangun budaya damai dalam masyarakat”.


Spread the love

Leave a Comment

Your email address will not be published.