By / Kolom

Rizieq dan Miskinnya Strategi Dakwah

Spread the love

Front Pembela Islam (FPI) saat ini tengah menjadi trending topic di setiap pembicaraan. Mulai dari kalangan wartawan, aktivis kampus, pekerja kantoran hingga tukang becak membicarakan sepak terjangnya. Acara-acara diskusi yang digelar di kampus, aktivitas perkuliahan, hingga tempat tongkrongan seperti di warung kopi tak lepas dari perbincangan FPI dan pemimpinnya, Habib Rizieq.

Uniknya, di setiap perbincangan itu hampir selalu terselip kelucuan, baik yang berhubungan dengan nama pribadinya yang diplesetkan menjadi “Habib Berisik” dan “Habib Hoax”,  maupun skandalnya dengan Virza Husein belakangan ini. Kasus yang terakhir ini, sengaja saya katakan kelucuan karena sebagai Habib malah terjerembab pada kasus moral.

Terlepas dari semua kelucuan itu, FPI dan Rizieq tengah menjadi sorotan umat Islam di Indonesia. Kali ini, perhatian publik itu bukan diarahkan pada laku dan tindakan aksi kekerasan yang dilakukan oleh organisasi Islam yang berdiri pada 17 Agustus 1998, tetapi karena klaimnya yang mampu mengorganisir jutaan massa pada Aksi Bela Islam (ABI) I, II dan III beberapa waktu lalu.

Pasca ABI, banyak acara pengajian yang melibatkan massa umat Islam di sejumlah daerah dilakukan dengan mengundang Rizieq, Bachtiar Nastir atau pimpinan FPI yang lain. Praktis, dalam waktu yang sebentar, Rizieq berhasil mendapatkan panggung baru.

Dengan gaya frontalnya yang kritis terhadap pemerintah itu, ada yang menyebutnya sebagai “penyelamat Indonesia” dan “tokoh baru umat Islam”. Sangat cepat klaim-klaim ini menyeruak di berbagai perbincangan, sekalipun bagi kelompok akademik ini sangat tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Namun, siapa yang sangka kepamoran itu tak berlangsung lama. Rizieq yang awalnya mulai menikmati pujian malah tergelincir akibat perilakunya yang senonoh bersama Virza Husein (tentu saja ini berdasarkan pada video rekaman yang beredar dan screenshoot pembicaraan pribadi di media sosial). Tak pelak, simpati publik pun langsung berbalik meninggalkan Rizieq secara per lahan.

Menurut penulis, karakter yang mudah terpengaruh oleh arus inilah yang selalu menjadi penyakit bagi masyarakat Indonesia. Mudah gandrung pada sesuatu yang baru, tapi juga mudah meninggalkannya begitu saja. Hal ini diakibatkan oleh ketakjuban yang tidak didasari pada pendidikan kritis dan literasi yang mendalam.

Dampak dari sepak terjang FPI dan Rizieq ini sangat melukai nalar berpikir masyarakat. Kita jadi tahu sebenarnya seberapa mendalam pemahaman keberagamaan umat Islam di Indonesia. Corak pemikiran umat Islam mengalami terjun bebas ke arah konservatisme Islam.

Efek domino dari semua ini adalah setiap isu politik yang berkembang di pusat terus dicari-cari hubungannya dengan sentimen keagamaan. Ketegangan demi ketegangan diproduksi oleh sejumlah pihak hingga berhasil mempengaruhi pola pikir publik dan membuat “keonaran”, paling tidak di dunia maya.

Energi umat Islam terkuras untuk saling hujat dan mempertahankan pendapatnya masing-masing. Sebagian umat Islam yang membela FPI dan Rizieq komentar banyak menanggapi orang-orang yang menolaknya. Sebaliknya, kelompok yang kontra terhadap Rizieq pun tidak bisa bersikap bijak mengemukakan pendapatnya, sehingga perbincangan seputar keagamaan sekarang ini sarat dengan kebencian dan permusuhan.

Padahal, kalau kita mau jujur, hampir seluruh topik utama perbincangan di media yang melibatkan umat Islam belakangan ini tak lepas dari kontestasi politik. Lantas mengapa umat Islam mudah sekali mengikuti “alunan gendang” yang ditabuh pihak tidak bertanggungjawab tersebut? Jawabannya tidak lain karena kita masih miskin strategi dalam menyatukan umat.

Nafi Muthohirin

Nafi Muthohirin

Staf Program at Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM)
NAFI’ MUTHOHIRIN adalah Dosen Agama di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sekaligus sebagai Direktur Riset di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM UMM). Pendidikan magisternya di jurusan Kajian Agama dan Studi Perdamaian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2014). Minat kajiannya berpusat pada tema-tema Islam dan Perdamaian; Radikalisme dan Kekerasan Ekstrimisme, serta Multikulturalisme. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan, di antaranya adalah: (1) Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus (IndoStrategi, Jakarta: 2014); (2) Mahasiswa di Pusaran Fundamentalisme Islam Kampus: Studi Kasus di Universitas Indonesia (Maarif Institute, Jakarta: 2014); (3) Radikalisme Islam dan Pergerakannya di Media Sosial (Jurnal Afkaruna, UMY: 2015); (4) Reproduksi Salafi: Dari Kesunyian Apolitis Menuju Jihadis (Maarif Institute, dalam proses). Nafi’ memiliki pengalaman yang panjang di bidang jurnalistik, di antaranya pernah bekerja di: (1) MATAN (PW Muhammadiyah Jawa Timur, Surabaya: 2009-2010); (2) Rakyat Merdeka (Jawa Pos Grup, Jakarta, 2010-2012); (3) Koran SINDO (MNC Grup, Jakarta: 2011-2015); (4) MONDAY Magz (Jakarta, Okt 2015 – Agt 2016). Beberapa artikelnya tersebar di sejumlah harian, seperti di Radar Surabaya, Malang Post, Koran SINDO, Radar Banten, dan GeoTimes.
Nafi Muthohirin

Spread the love

Nafi Muthohirin

NAFI’ MUTHOHIRIN adalah Dosen Agama di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sekaligus sebagai Direktur Riset di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM UMM). Pendidikan magisternya di jurusan Kajian Agama dan Studi Perdamaian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2014). Minat kajiannya berpusat pada tema-tema Islam dan Perdamaian; Radikalisme dan Kekerasan Ekstrimisme, serta Multikulturalisme. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan, di antaranya adalah: (1) Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus (IndoStrategi, Jakarta: 2014); (2) Mahasiswa di Pusaran Fundamentalisme Islam Kampus: Studi Kasus di Universitas Indonesia (Maarif Institute, Jakarta: 2014); (3) Radikalisme Islam dan Pergerakannya di Media Sosial (Jurnal Afkaruna, UMY: 2015); (4) Reproduksi Salafi: Dari Kesunyian Apolitis Menuju Jihadis (Maarif Institute, dalam proses). Nafi’ memiliki pengalaman yang panjang di bidang jurnalistik, di antaranya pernah bekerja di: (1) MATAN (PW Muhammadiyah Jawa Timur, Surabaya: 2009-2010); (2) Rakyat Merdeka (Jawa Pos Grup, Jakarta, 2010-2012); (3) Koran SINDO (MNC Grup, Jakarta: 2011-2015); (4) MONDAY Magz (Jakarta, Okt 2015 – Agt 2016). Beberapa artikelnya tersebar di sejumlah harian, seperti di Radar Surabaya, Malang Post, Koran SINDO, Radar Banten, dan GeoTimes.

Leave a Comment

Your email address will not be published.