By / Kolom

Saling Curiga Sebabkan Intoleransi Meningkat

Spread the love

Pasca kejatuhan Soeharto pada 19 tahun yang lalu, tren perilaku intoleransi yang mengatasnamakan agama terus mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil riset Setara Institute pada 2016, tindakan intoleran selama tahun lalu mencapai 208 peristiwa kekerasan terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan, yang dibarengi 270 tindakan.

Angka tersebut meningkat bila dibandingkan pada tahun 2015, di mana tercatat ada 197 peristiwa dan 236 tindakan. Menurut Program Officer Islam and Development The Asia Foundation Budhy Munawar-Rachman, masih adanya perasaan saling mencurigai antara pemeluk agama satu dengan agama yang lain menjadikan tindak intoleransi tetap subur di Indonesia.

“Sikap saling mencurigai yang masih melekat pada diri masyarakat beragama menjadikan ini sebagai potensi akan terjadinya aksi intoleransi,” kata Budhy, pada Diskusi Panel Nasional bertajuk Toleransi dan Kebebasan Beragama di Indonesia, yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Hak Asasi Manusia (PUSHAM) Universitas Darul Ulum Jombang, Kamis (6/4).

Saat ini, lanjut Budhy, perkembangan toleransi beragama di Indonesia sangat mengkhawatirkan. Apalagi, di tengah politik Pilkada DKI seperti sekarang. Satu kasus yang patut menjadi perhatian bersama, yaitu adanya propaganda yang sangat kuat mengenai larangan memakamkan pendukung salah satu calon.

Tindak intoleransi ini terjadi akibat cara berdemokrasi di Indonesia yang masih bersifat prosedural. Perlindungan terhadap hak-hak minoritas belum berjalan maksimal, serta kebebasan beragama yang dilindungi dalam Undang-undang juga tidak disambut baik oleh sekelompok pemeluk agama. “Meski Reformasi sudah berusia 19 tahun, namun proses berdemokrasi yang substantif belum terjadi.”

Gejala ini membuktikan bahwa fundamentalisme terhadap agama semakin menguat di Indonesia. Sayangnya tidak ada perlawanan dari masyarakat, juga dari pemerintah yang mestinya berperan lebih penting. Yang sangat ironis, pemerintah tidak melihatnya sebagai sebuah masalah, sehingga ini adalah anomali.

Untuk mengantisipasi hal ini, perlu sebuah konsensus baru agar cara berfikir yang keliru terhadap agama selama ini, tidak sampai membuat gaduh dengan terjadi disintegrasi. “Meski sebenarnya disintegrasi verbal itu sudah terjadi di media sosial. Apalagi arus conservative turn ini sulit dibendung. Konsensus bisa dibentuk dengan berupa konsep Pluralisme, Pancasila dan Kewarganegaraan,” urai Budhy.

Menjawab tindak intoleransi yang semakin menguat, Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Jombang Isrofil Amar mengatakan, bahwa pada prinsipnya tidak ada agama di dunia ini yang ingin mengajak umatnya untuk saling bertengkar, bermusuhan dan menebar kebencian. Justru setiap agama mengajarkan kasih sayang, kedamaian, saling menghormati dan menjalin keakraban, baik intern maupun antar umat beragama.

“Tindak intoleransi itu terjadi akibat adanya umat beragama yang tidak menjalankan ajaran-ajaran agama secara hati nurani,” kata Isrofil di acara yang sama. Intoleransi sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam, justru asas kerukunan umat beragama meliputi toleransi, kebersamaan, non diskriminasi, dan ketertiban.

“Kebersamaan dalam hal ini bukan dalam beribadah. Islam, Krsiten dan agama-agama lain menjalankan ibadahnya secara sendiri-sendiri sesuai dengan ajaran agama,” kata Isrofil. Namun, di dalam al-Qur’an dibolehkan bagi umat Islam untuk menjalin kerjasama dengan non muslim dalam urusan kemasyarakatan.

Agama Punya Masa Depan

Wakil Rektor I, sekaligus Direktur Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Syamsul Arifin menjelaskan, problem intoleransi dan meningkatnya paham keagamaan yang fundamentalistis –atau mencita-citakan politik Islam—bisa diantisipasi melalui pendekatan Pendidikan Menghidupkan Nilai-nilai (Living Value Education/LVE).

“Segala hal yang yang terkait dengan agama bila diintrepresikan secara salah, bisa memunculkan pemahaman yang radikal.  Sebab itu, LVE bisa dipraktikan dalam rangka melakukan deradikalisasi agama,” tutur Syamsul.

LVE sangat sesuai untuk dijadikan sebagai metode melakukan deradikalisasi, apalagi untuk menumbuhkan pemahaman yang moderat, mencintai perbedaan dan menghargai keragaman. Menurutnya, Indonesia terdiri dari lebih dari 250 juta jiwa, 1700 pulau dengan ratusan etnik dan ras, serta 6 agama mainstream, tak heran bila negeri ini sangat berpotensi untuk terjadi konflik.

“Tapi kita patut bersyukur, karena kenyataannya Indonsia justru berkontribusi bagi perkembangan Islam moderat di dunia. Dan, ini bisa menjadi model keteladanan bagi kerukunan umat beragama dan merajut berbagai keberagaman di tempat lain,” urainya.

Meski banyak sarjana muslim yang menyebut bahwa gerakan radikalisme keagamaan secara global mengalami penguatan, namun betapa agama masih punya masa depan. Indikasi ini bisa dilihat dari jumlah orang yang tidak berafiliasi dengan agama yang semakin menurun.

Merujuk pada riset PEW Forum, jumlah orang beragama semakin banyak, bahkan ekspos terhadapa agama semakin meningkat. “Sekarang ini ada ekspos kesalehan, di mana praktik beragama ditampilkan di media sosial. Ada orang yang berpuasa, dari menu sahur, sholat Dhuha hingga menu buka puasa di-up date di Facebook. Itu adalah bukti dari adanya ekspose kesalehan,” ungkap Syamsul.

Penting untuk diketahui bahwa acara ini terlaksana berkat kerjasama antara TAF, PUSAM UMM dan PUSHAM Fisipol Universitas Darul Ulum Jombang. Sebelum dimulai diskusi, dihasilkan penandatanganan kerjasama (Master of Understanding/ MoU) antara PUSAM UMM dan PUSHAM Darul Ulum dalam berbagai kegiatan kajian isu-isu HAM di Indonesia.

Diskusi Panel ini dilakukan dalam dua sesi: Sesi Pertama, menghadirkan tiga narasumber yaitu Budhy Munawar-Rachman, Syamsul Arifin dan Isrofil Amar; Sesi Kedua, menghadirkan pembicara Cekli Setya Pratiwi (PUSAM), Tadjoer Ridjal (Guru Besar Sosiologi dan Kebudayaan Universitas Darul Ulum), dan Andreas Kristianto (OIKMAS GKI Sinode Jawa Timur).

Acara ini diikuti lebih dari 70 peserta dengan undangan yang berasal dari FKUB Jombang, Kesbangpol Jombang, Anshor, Muslimat, IPNU, dan IPPNU, aktivis lintas iman, serta dosen Universitas Darul Ulum dan sejumlah dosen di lingkungan perguruan tinggi di Jombang.

Nafi Muthohirin

Nafi Muthohirin

Staf Program at Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM)
NAFI’ MUTHOHIRIN adalah Dosen Agama di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sekaligus sebagai Direktur Riset di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM UMM). Pendidikan magisternya di jurusan Kajian Agama dan Studi Perdamaian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2014). Minat kajiannya berpusat pada tema-tema Islam dan Perdamaian; Radikalisme dan Kekerasan Ekstrimisme, serta Multikulturalisme. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan, di antaranya adalah: (1) Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus (IndoStrategi, Jakarta: 2014); (2) Mahasiswa di Pusaran Fundamentalisme Islam Kampus: Studi Kasus di Universitas Indonesia (Maarif Institute, Jakarta: 2014); (3) Radikalisme Islam dan Pergerakannya di Media Sosial (Jurnal Afkaruna, UMY: 2015); (4) Reproduksi Salafi: Dari Kesunyian Apolitis Menuju Jihadis (Maarif Institute, dalam proses). Nafi’ memiliki pengalaman yang panjang di bidang jurnalistik, di antaranya pernah bekerja di: (1) MATAN (PW Muhammadiyah Jawa Timur, Surabaya: 2009-2010); (2) Rakyat Merdeka (Jawa Pos Grup, Jakarta, 2010-2012); (3) Koran SINDO (MNC Grup, Jakarta: 2011-2015); (4) MONDAY Magz (Jakarta, Okt 2015 – Agt 2016). Beberapa artikelnya tersebar di sejumlah harian, seperti di Radar Surabaya, Malang Post, Koran SINDO, Radar Banten, dan GeoTimes.
Nafi Muthohirin

Spread the love

Nafi Muthohirin

NAFI’ MUTHOHIRIN adalah Dosen Agama di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sekaligus sebagai Direktur Riset di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM UMM). Pendidikan magisternya di jurusan Kajian Agama dan Studi Perdamaian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2014). Minat kajiannya berpusat pada tema-tema Islam dan Perdamaian; Radikalisme dan Kekerasan Ekstrimisme, serta Multikulturalisme. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan, di antaranya adalah: (1) Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus (IndoStrategi, Jakarta: 2014); (2) Mahasiswa di Pusaran Fundamentalisme Islam Kampus: Studi Kasus di Universitas Indonesia (Maarif Institute, Jakarta: 2014); (3) Radikalisme Islam dan Pergerakannya di Media Sosial (Jurnal Afkaruna, UMY: 2015); (4) Reproduksi Salafi: Dari Kesunyian Apolitis Menuju Jihadis (Maarif Institute, dalam proses). Nafi’ memiliki pengalaman yang panjang di bidang jurnalistik, di antaranya pernah bekerja di: (1) MATAN (PW Muhammadiyah Jawa Timur, Surabaya: 2009-2010); (2) Rakyat Merdeka (Jawa Pos Grup, Jakarta, 2010-2012); (3) Koran SINDO (MNC Grup, Jakarta: 2011-2015); (4) MONDAY Magz (Jakarta, Okt 2015 – Agt 2016). Beberapa artikelnya tersebar di sejumlah harian, seperti di Radar Surabaya, Malang Post, Koran SINDO, Radar Banten, dan GeoTimes.

Leave a Comment

Your email address will not be published.